Sabtu, 15 Mei 2021 18:15

KH Hasyim Muzadi di Pesantren Buntet Cirebon: Kini Banyak Orang Beda Manhaj Datang ke NU

Minggu, 10 April 2016 20:51 WIB
KH Hasyim Muzadi di Pesantren Buntet Cirebon: Kini Banyak Orang Beda Manhaj Datang ke NU
KHA Hasyim Muzadi disambut para kiai dan masyayikh dalam puncak Haul Almarhumin di Pondok Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat. foto: istimewa

CIREBON, BANGSAONLINE.com - KHA. Hasyim Muzadi mendapat kehormatan menyampaikan ceramah agama pada puncak Haul Almarhumin di Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat, Sabtu malam (9/4).

Acara rutin tahunan ini dihadiri Menteri Agama RI Drs Lukman Hakim Saifudin, Kapolda Jabar, Irjen Pol. Drs. Jodie Rooseto dan para Masayikh Pesantren Buntet, antara lain: KH. Nahduddin Abbas, KH. Anas Arsyad, KH. Adib Rofiudin Izza, serta para pejabat dan tokoh masyarakat seperti serta ribuan jamaah yang hadir dari berbagai kota sekitar Cirebon.

Dalam ceramahnya, Kiai Hasyim Muzadi mengatakan bahwa pesantren harus bangkit mempertahankan fikrah Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) Annahdiyah.

”Karena saat ini sedang terjadi "ghazwul fikri" (perang pemikiran). Masing-masing mengaku dan merasa manhaj mereka yang menjamin terselenggaranya Islam Rahmatan Lil Alamin,” kata Kiai Hasyim Muzadi di depan ribuan warga Cirebon dan sekitarnya.

BACA JUGA : 

Pengasuh Ponpes Dukung Polda Jatim Berantas Narkoba

Perkuat Ekonomi Pesantren, Pengurus BagusS Jatim Gelar Sarasehan dan Silaturahim

Jokowi: Vaksin AstraZeneca akan Digunakan di Lingkungan Pondok Pesantren

Haul ke-4, ​Empat Hikmah Tarbawi Abah Hasyim Muzadi

Menurut anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu sekarang ini waktunya para ulama bernahdlhoh (bangkit) untuk meneruskan perjuangan yang telah digali dan diperjuangkan salafussholih, kemudian menyajikan kepada masyarakat dengan cara atau metode yang baru.

“Tapi barangnya barang lama. Almuhafadzatu ‘alal qodimissholih wal ‘akhdu bil jadidil ashlah. Tanpa harus menggeser miqatnya dan mengubah manhajnya,” katanya.

Pengasuh dua pesan pondok pesantren mahasiswa al-Hikam Malang Jawa Timur dan Depok Jawa Barat ini menegaskan bahwa yang diperjuangkan adalah al-Quran dan Hadits. ”Yang kita perjuangkan adalah Ahlussunnah wal jama’ah Annahdliyah,” katanya.

Ia lalu menjlentrehkan sejarah panjang para pejuang Islam, terutama para waliyullah. Menurut dia, periode awal dakwah Islam dilakukan oleh para wali di Indonesia. Kemudian dilanjutkan ulama-ulama pesantren melalui jalur pendidikan yang dipelopori Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy'ari dan yang lain.

”Itu usianya sudah hampir 100 tahun yang lalu. Dan biasanya setiap 100 tahun akan ganti generasi,” katanya.

Menurut dia, setiap perubahan generasi, maka berubah konsumennya, berubah pula tantangan zamannya. Padahal yang diperjuangkan tetap al-Quran, Hadis dan ilmu ulama.

”Sebagaimana disabdakan oleh Rasul; bahwa Allah akan mengutus mujaddid di muka bumi ini pada setiap generasi. Maka di sinilah peran pesantren melakukan tajdid,” katanya.

Mantan ketua umum PBNU dua periode itu berpendapat bahwa makna tajdid bukanlah membuat atau mengadakan sesuatu yang baru. ”Kiai Ahmad Shiddiq mendefinisikan tajdid sebagai ja’lun qadim kaljadid. Yaitu menjadikan sesuatu yang lama seperti baru, atau dengan menyepuh (merenovasi) hal yg lama menjadi baru. Atau dengan kemasan yg baru (inovasi),” tegas ulama asal Tuban Jawa Timur itu.

Menurut dia, dulu pada jaman KH.Wahab Hasbullah untuk mmpertahankan Aswaja harus brangkat sendiri ke Saudi Arabia. Yang pada akhirnya dikenal dengan istilah “Komite Hijaz”. Tujuannya, agar Aswaja diberikan tempat. ”Kalau sekarang Wahabi dan Syiah sudah ada di sekeliling kita,” katanya.

Ia menegaskan bahwa salah satu ciri Aswaja adalah memiliki ciri tasamuh, tetapi bukan Istislam yang berarti menyerahkan. ”Tasamuh itu mengerti dan memahami perbedaan yang ada dengan firqoh lain. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran: Lana A’maluna wa lakum a’malukum, lakum dinukum waliyadiin,” katanya.

Ia lalu menjelaskan tentang kelemahan kita dalam memperjuangkan Aswaja dibanding madzhab lain. Kalau madzhab lain adalah ilmu, amal, harokah (pergerakan) dan maaliyah (sumber pendanaan). Jadi, ilmu, amal ilmu, sistem gerakan plus keuangan.”Nah, ini berbeda dengan kita. Kita ini baru berada dalam tataran ilmu amaliyyah dan beramal ilmiyyah,” katanya.

Menurut dia, penguatan Ahlussunnah Wal Jamaah itu hanya bisa dilakukan oleh pesantren. Tapi tidak semua pesantren bisa. ”Yang bisa adalah pesantren yang mempunyai silsilah langsung dengan para auliya, seperti pesantren Tebuireng (Jombang), Pesantren Cipasung (Jabar), Pesantren Sukorejo Asembagus (Situbondo), Pesantren Syaikhona Kholil (Bangkalan), termasuk Buntet Pesantren (Cirebon) ini dan beberapa pesantren lain,” katanya.

Kini – tegas dia- persantren harus bersama-sama melakukan penguatan, lalu pengembangan manhaj. Karena jika tidak, maka NU bisa ganti manhaj NU dengan manhaj baru. dan mungkin bisa seperti ISIS, atau kelompok radikal yg lain.

”Banyak orang yang berbeda manhaj, datang ke NU.Mereka menawarkan pemikiran lain yang berbeda dengan manhaj Aswaja NU. Saya perhatikan saat ini terdapat fenomena santri yang sudah bosan dengan pemikiran pesantren. Sehingga akhirnya pikirannya menerawang ke mana-mana. Dalam situasi seperti itu mereka di-"ambil" oleh orang lain, kemudian dikembalikan ke NU,” katanya.

Menurut dia, Nahdlatul Ulama itu bukan sekedar organisasi. Akan tetapi jalan hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. ”Maka harus kita pegan teguh secara erat,” pungkasnya. (tim)

Artis Greta Garbo Ajak Nikah ​Albert Einstein
Rabu, 12 Mei 2021 04:07 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan episode 30 mereview cerita Gus Dur tentang fisikawan Albert Eintein dan model cantik Greta Garbo. “Anekdot ini saya ambil dari buku berjudul Gus Dur hanya Kalah dengan Orang Madura,...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 15 Mei 2021 09:10 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kerusuhan 13 Mei 1998 terus diperingati oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Korban aksi anarkis itu sebagian memang etnis Tionghoa.Uniknya, mereka memperingati dengan menyajikan rujak pare dan sambal jombrang. Apa...
Kamis, 13 Mei 2021 19:51 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Jumat, 14 Mei 2021 10:11 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Won...