Wanita di Surabaya Lapor Ancaman Dibunuh, Polisi Pastikan Hoaks

Wanita di Surabaya Lapor Ancaman Dibunuh, Polisi Pastikan Hoaks Ilustrasi. Foto: Ist

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Seorang wanita bernama Nur Khalifah (32), warga Jalan Demak Timur Gang V No. 26, Bubutan, melaporkan ancaman akan dibunuh oleh ayah kandungnya melalui Command Center 112 Pemkot Surabaya pada Senin (19/1/2025) pukul 20.40 WIB.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Satpol PP melakukan pencarian dan menemukan Nur Khalifah di Jalan Tidar No. 27. Kemudian, ia diamankan dan dibawa ke Kantor Satpol PP untuk pemeriksaan. 

Dalam interogasi, Nur mengaku dipukul dan diancam dibunuh ayahnya, sehingga melarikan diri ke rumah pacarnya di Jalan Tunjungan.

Karena adanya indikasi kriminalitas, Satpol PP menyerahkan Nur ke Polsek Genteng. Kanit Reskrim Polsek Genteng, AKP Vian Wijaya, membenarkan penyerahan tersebut.

“Benar ada penyerahan dari Sat Pol PP Kota, dan telah kami lakukan pemeriksaan. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan pengakuan wanita itu tidak benar. Dirinya ternyata mengalami depresi sehingga memberikan keterangan tidak benar tentang ayahnya akan membunuhnya,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).

Polisi kemudian memanggil ayah Nur, Jumali (55), untuk hadir di Polsek Genteng. Kedatangannya mengejutkan karena terlihat luka lebam di pelipis mata.

“Luka lebam itu ternyata bekas pukulan dari anak perempuannya, Nur Khalifah,” kata Vian.

Sementara itu, Ludfi selaku ketua RT membenarkan bahwa Nur Khalifah diketahui mengalami depresi. Warga sekitar juga sering menyaksikan perilaku tidak biasa dari Nur.

“Kami sudah mengetahui, sebenarnya Nur Khalifah itu bisa bergaya hidup normal namun kadang juga mengalami aksi yang agak nyeleneh, seperti kemarin itu. Kami kurang pasti faktornya apa, tapi isunya karena pergaulan,” paparnya.

Ludfi menambahkan, Nur masih berstatus istri orang meski belum bercerai. Warga kerap melaporkan perilaku Nur yang dianggap tidak normal, seperti memanjat pagar rumah, membunyikan musik keras, dan berpakaian seksi.

“Suaminya sudah tidak bersamanya, pulang ke Kalimantan, mungkin karena sikap istrinya seperti itu,” ucapnya.

Masyarakat sekitar berharap, pemerintah daerah setempat lebih memperhatikan warga dengan kondisi mental terganggu.

“Kami kasihan dengan ayahnya, Pak Jumali, yang sabar menghadapi putrinya. Mungkin pihak Dinas Sosial Surabaya bisa memberikan solusi,” kata Ludfi. (rus/red)