DARI KANAN: Syaikh Ahmad Mabdruk, Syaikh Dr Faraq Salim Al Azhari , Dr KH Ahmad Jazuli, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, Syaikh Abdul Aziz Syahawi Al-Husaini dan Dr Achmad Rubaie. Foto: MMA/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE-com – Apel akbar peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur sangat istimewa, Rabu (22/10/2025). Acara yang dimulai sekitar pukul 7.30 pagi itu diikuti sekitar 10 ribu santri dan dihadiri tiga ulama dari Mesir. Yaitu Syaikh Abdul Aziz Syahawi Al-Husaini, seorang ulama terkemuka mazhab Syafi'i dari Universitas Al-Azhar.
Selain Syaikh Syahawi, apel akbar HSN itu juga dihadiri Syaikh Dr Faraq Salim Al Azhari dan Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk, ulama Universitas Al Azhar yang bertugas di Amanatul Ummah.
BACA JUGA:
- Luar Biasa! 318 Santri Amantul Ummah Lolos UTBK-SNBT, Banyak yang Hafal Quran
- Amirulhaj Prof Kiai Asep: Wukuf di Arafah Waktu Mustajab, Malaikat juga Ikut Mintakan Ampunan
- Amanatul Ummah Terima Sapi Kurban Presiden, Wapres, Gubernur, Wagub, Sekda, PAN, BPN, & Wali Santri
- Amirulhaj Tinjau Adahi, Kiai Asep Pastikan Penyembelihan Dam Jemaah Haji Sah Secara Syariah
Dalam apel akbar HSN itu Syaikh Syahawi memimpin doa yang diamini puluhan ribu kiai dan santri.
Syaikh Syahawi dikenal sebagai ulama zuhud dan berakhlak tinggi. Ia sangat memuliakan tamunya. Ketika Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim dan istrinya, Nyai Hj Alif Fadhilah serta rombongan silaturahim ke kediamannya di Kota Al Mahallah Al Kubra atau El-Mahalla El-Kubro Provinsi Gharbiya Mesir, Syaikh Syahawi tak segan-segan makan sisa makanan Kiai Asep dan rombongan sebagai penghormatan terhadap para tamunya.
Apel akbar HSN bertema 'Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia' itu digelar di Lapangan Besar Amanatul Ummah Kembang Belor Pacet Mojokerto, Rabu (22/10/2025). Makin siang matahari kian menyengat. Tapi Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mengatakan bahwa matahari akan bersahabat. Tak lama berselang ternyata sekumpulan awan mengapung di langit sehingga panas matahari terhalang. Cuaca pun teduh.
Kiai Asep tiba di lapangan terbuka itu pukul 7.00 pagi. Ia datang bersama Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk. Saat itu para santri berdatangan. Sekaligus membuat barisan yang terpisah antara laki dan perempuan.
Menurut Kiai Asep, acara apel akbar HSN Amanatul Ummah ini berkoordinasi dengan aparat TNI dan Polri. Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, banyak anggota TNI dan polisi di lapangan. Mereka sibuk mengatur barisan santri dan mengordinasi acara.
Kiai Asep sangat mengapresiasi HSN. “Saya menyembelih sapi dan kambing. Nanti semua tamu makan. Semua santri juga makan,” tegas pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu. Puluhan ribu santri yang memenuhi lapangan langsung tepuk tangan.

Para santri
Putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu menegaskan bahwa peran kiai, santri dan pesantren sangat besar terhadap berdiri dan tegaknnya negara Indonesia. Menurut Kiai Asep, pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pejuang kemerdekaan seperti Soekarno dan Mohammad Hatta memilih cara diplomasi dan perjanjian politik dengan penjajah Belanda dan Inggris. Tapi hasilnya merugikan bangsa Indonesia.
Karena itu, tegas Kiai Asep, Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari memilih perang.
“Setelah melihat itu (pihak Indonesia dirugikan) maka dengan tegas Kiai Hasyim Asy’ari mengumumkan resolusi jihad bahwa berperang melawan penjajah (Inggris) wajib hukumnya dan mati syahid jika terbunuh,” tegas Kiai Asep.
“Jadi yang berperan penting untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia terutama dalam 10 November 1945 adalah Kiai Hasyim Asy’ari, Bung Tomo dan Kiai Abbas Abdul Jamil,” tegas Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, pasca pertempuran 10 November 1945, pihak Belanda masih belum mau melepas Indonesia secara keseluruhan. Mereka terus berusaha untuk mempertahankan wilayah, termasuk di Jawa Timur, melalui garis Van Mook.
“Tapi garis Van Mook itu dirobek-robek dan dikuasasi oleh Kiai Muhammad Yusuf Hasyim, mulai Surabaya hingga Jombang,” tegas Kiai Asep.
Kiai Asep mengungkapkan bahwa Kiai Muhammad Yusuf Hasyim ini berjuang sejak umur 12 tahun. Sekarang, Kiai Yusuf Hasyim diusulkan sebagai pahlawan nasional.
Jadi, tegas Kiai Asep, peran kiai dan santri sangat besar dalam memerdekaan Indonesia sekaligus mempertahankannya. “Tapi sejarawan kiri berusaha menggelapkan sejarah,” kata ketua umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




