Benarkah Pesantren Tidak Relevan dan Pelajaran Agama Harus Dihapus?

Benarkah Pesantren Tidak Relevan dan Pelajaran Agama Harus Dihapus? Khariri Makmun. Foto: dok. priabadi

Oleh : *

Tulisan ini kami sajikan untuk menjawab tuduhan naif tentang ketidaksesuaian Pendidikan Agama dengan kebutuhan Bangsa.

Ada anggapan yang belakangan cukup nyaring terdengar, bahwa dan lembaga pendidikan agama lainnya tak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Katanya, jurusan-jurusan agama seperti tafsir, hadis, syariah, fikih, akidah, atau akhlak tidak sejalan dengan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) negara yang harus bersaing secara global dalam bidang teknologi, sains, dan ekonomi. 

Maka, muncul logika serampangan yang menyimpulkan: jika pendidikan agama tak bisa melahirkan insinyur, ahli bioteknologi, atau ilmuwan roket, berarti ia tak layak diperjuangkan—bahkan sebaiknya ditutup.

Pandangan seperti ini bukan hanya keliru, tapi juga menunjukkan kedangkalan cara berpikir yang gagal memahami peran strategis pendidikan agama—terutama —dalam membangun watak bangsa. 

Menganggap bahwa satu-satunya ukuran kemajuan bangsa adalah penguasaan sains dan teknologi semata, tanpa menyertakan integritas moral dan kearifan sosial, adalah kekeliruan fatal. Negara bukan sekadar mesin industri. Negara adalah organisme sosial dan budaya. Dan dalam konteks ini, memainkan peran krusial.

Pertama-tama, mari kita luruskan: siapa bilang hanya mengajarkan kitab kuning dan ilmu-ilmu klasik semata? Pesantren masa kini tidak statis. Ia dinamis. Ia bertransformasi. Banyak hari ini justru mengintegrasikan kurikulum agama dengan sains dan teknologi. Para santri bukan hanya belajar tafsir atau hadis, tapi juga fisika, matematika, komputer, pertanian, bahkan robotik. Pesantren tidak tertinggal. Mereka hanya punya prioritas yang berbeda: membangun karakter sebelum membangun karier.

Kedua, pendidikan agama—yang dianggap ‘tidak relevan’ itu—justru menjadi fondasi dari pendidikan karakter yang hari ini sangat dibutuhkan bangsa. Apa gunanya memiliki insinyur hebat kalau korup? Apa faedahnya punya ahli ekonomi kelas dunia kalau tak punya integritas moral dan gampang disuap? Inilah sumbangsih tak terlihat : mereka mendidik SDM yang bukan hanya cerdas, tapi juga berakhlak, punya etika sosial, dan tahan terhadap godaan kekuasaan.

Ketiga, kritik yang menyebut tidak menghasilkan SDM yang “dibutuhkan negara” sangat sempit dalam memaknai kebutuhan bangsa. Apa hanya ahli fisika dan kimia yang dibutuhkan bangsa ini? Bagaimana dengan SDM yang paham hukum waris, yang bisa menyelesaikan sengketa syariah, yang bisa jadi mediator konflik sosial, yang bisa menjadi pemimpin moral masyarakat? Atau lebih sederhana: siapa yang akan menjadi imam salat, penceramah keagamaan, guru ngaji anak-anak? Ataukah bangsa ini ingin tumbuh menjadi entitas sekuler yang tercerabut dari akar nilai dan spiritualitas?

Keempat, bukan lembaga nostalgia. Ia adalah laboratorium sosial yang aktif. Di sana karakter SDM bangsa ditempa dengan kedisiplinan, keikhlasan, kesederhanaan, dan jiwa gotong royong. Anak-anak bangun sebelum fajar, belajar tanpa banyak fasilitas, mandiri dalam mengatur hidup. Mereka ditempa dalam kultur egaliter dan spiritual yang kuat. Bandingkan dengan sebagian sekolah umum yang terlalu kering dari aspek moral dan terlalu kaku dalam relasi guru-murid.

Kelima, siapa bilang anti terhadap sains? Sejak dulu para ulama belajar ilmu hisab (astronomi), ilmu mantik (logika), ilmu falaq, hingga ilmu kesehatan berbasis Islam. Bahkan dalam sejarahnya, melahirkan banyak tokoh pembaharu yang justru menggerakkan pendidikan modern. Lihat saja sosok Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, atau Mahmud Yunus—semuanya berakar dari tradisi , tapi punya orientasi pembaruan pendidikan yang kuat.

Keenam, keunggulan yang jarang disorot adalah penguasaan bahasa asing. Santri-santri bisa membaca literatur Arab klasik yang sangat kaya, bahkan menguasai bahasa Inggris sebagai bekal komunikasi global. Mereka tidak kalah bersaing. Banyak alumni yang diterima di universitas top dunia, dari Al-Azhar hingga Harvard, dari Madinah hingga Melbourne. Jadi tuduhan bahwa tidak melahirkan SDM berkualitas hanyalah klaim kosong yang tidak berbasis data.

Ketujuh, faktanya, banyak sudah mengembangkan pendidikan vokasional. Mereka punya program keterampilan seperti pertanian, peternakan, perbengkelan, multimedia, hingga bisnis digital. Santri tidak hanya jadi ustaz, tapi juga teknopreneur, desainer, hingga pengelola start-up berbasis nilai. Jadi, jangan sempitkan makna hanya sebagai tempat tafsir dan fikih, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks dan kontributif.

Kedelapan, negara ini sedang menghadapi krisis nilai. Korupsi merajalela. Radikalisme tumbuh subur. Polarisasi sosial makin tajam. Di tengah krisis ini, tampil sebagai benteng moral. Ia mengajarkan moderasi beragama, nasionalisme religius, dan cinta tanah air. Ia melahirkan kader-kader pemimpin yang tidak hanya pintar, tapi juga punya orientasi etis. Bandingkan dengan beberapa institusi pendidikan yang justru mencetak orang pintar tapi rakus, cerdas tapi manipulatif.

Lihat juga video 'Gara-Gara Hasil Cukur Tak Sesuai Harapan, Tukang Cukur di Bogor Nyaris Dibacok Pelanggannya':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO