Para santri Pondok Pesantren Amanantul Ummah ssaat salah malam di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur. Foto: m mas'ud adnan/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com-Wartawan HARIAN BANGSA, M. Mas’ud Adnan, tiba di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto sekitar pukul 2.30 malam. Warga masih lelap tidur. Tapi di Masjid Raya KH Abdul Chalim sudah berkumandang shalawat, dzikir dan seruan bangun bagi para santri.
“Bangun…bangun…bangun…,” kata Ustadz Ismanto lewat pengeras suara.
BACA JUGA:
- Amirulhaj Tinjau Adahi, Kiai Asep Pastikan Penyembelihan Dam Jemaah Haji Sah Secara Syariah
- Jelang Armuzna, Ini Taushiah Penting Amirulhaj Prof Kiai Asep kepada Jemaah Haji dan Petugas Haji
- UAC Bakal Buka Program Nuklir, Program Hukum Keluarga Islam Jadi Ilmu Layak Jual, Jika...
- Kiai Asep Cukup Persiapan Dua Bulan, Jika PP Amanatul Ummah Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
Ismanto melantunkan shalawat dan dzikir sejak pukul 2 malam. Hingga pukul 3 dinihari. Tiap hari. Dari dekat mihrab.
Para santri pun menggeliat. Mereka bangun. Sambil mengapit kitab mereka berbondong-bondong menuju masjid. Untuk salat malam berjemaah.
Santri putra di lantai 1 masjid yang cukup besar itu. Sedang santri putri di lantai 2. Semua mengenakan baju putih.
Jemaah salat malam itu dipimpin langsung Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Tapi jika Kiai Asep berhalangan diganti para ustadz.
“Salat malam adalah kendaraan untuk mencapai cita-cita,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep adalah putra KH Abdul Chalim, salah seorang kiai pendiri NU dan pejuang kemerdekaan RI yang pada November 2023 lalu mendapat anugrah gelar pahlawan nasional.
Denyut kehidupan di Amanatul Ummah memang dimulai sejak pukul 3 dini hari. Tentu banyak santri yang terkantuk-kantuk. Apalagi udara sangat sejuk. Maklum, pesantren ini terletak di lereng gunung penanggungan.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA. Foto: MMA/bangsaonline
Tapi mereka tetap menghampar sajadah. Apalagi Kiai Asep mengerahkan para ustadz untuk membangunkan mereka.
“Ayo bangun, bangun…,” teriak seorang ustadz sambil mengebaskan sajadahnya ke punggung santri yang mengantuk.
Mereka salat malam 12 rakaat. Setiap dua rakaat salam. Sampai 6 kali salam. Sang imam – Kiai Asep – membaca ayat kursi dan surat Ikhlas, baik pada rakaat pertama maupun rakaat kedua.
Salat hajat itu kemudian ditutup salat witir. Tiga rakaat dengan dua kali salam.
Usai salat malam mereka tak langsung balik ke kamarnya. Tapi menunggu salat Jemaah Subuh sambil membaca Al Quran.
Tak lama kemudian seorang santri adzan. Begitu adzan selesai, para santri berdiri. Salat sunnah fajar dua rakaat. Setelah itu baru salat Subuh berjemaah.
Sambil wiridan, usai salat Subuh, para santri merangsek ke depan. Mereka berebut dekat dengan Kiai Asep yang siap-siap membaca Kitab Mukhtarul Ahadits An-Nabawiyah.
Sambil membuka kitab, Kiai Asep menengok kanan kiri. Ia menyebut nama beberapa santri dari masing-masing unit pendidikan. Antara lain dari Tsanawiyah, MBI, SMA dan seterusnya.
Kiai Asep kemudian membaca matan Hadits sambil menjelaskan artinya panjang lebar. Tak lama kemudian ia minta santri untuk mengulang bacaan Hadits itu. Ternyata santri itu sudah hafal matan Hadits di luar kepala.
Kiai Asep kembali membaca Hadits sekaligus mengartikan dan menjabarkannya. Ia kemudian minta santri lain untuk mengulang bacaan Hadits yang dibahas. Ternyata santri itu juga sudah hafal Hadits di luar kepala.
“Kalau ada santri 5 tahun belum bisa apa-apa berarti kalau ngaji ngantu’an,” kata Kiai Asep.
Kiai Asep juga minta para santrinya tak boleh menyakiti teman sesama santrinya.
“Santri yang menyakiti temannya sama dengan menyakiti Pak Yai. Sebab kalian ini semua anak Pak Yai,” tegas Kiai Asep.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




