PALEMBANG, BANGSAONLINE.com – Ketua PWNU Sumatera Selatan (Sumsel) KH Hendra ZainuddinAl Qodiri mengaku mendoakan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA agar dalam Muktamar ke-35 NU mendatang menjadi salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
“Saya mendoakan dalam muktamar nanti beliau menjadi salah satu pemimpin PBNU,” ujar KH Hendra Zainuddin Al Qodiri saat menyampaikan sambutan dalam acara pelantikan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Sumatera Selatan di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Jl. Demang Lebar Daun Kota Palembang, Kamis (9/7/2026).
Kiai Asep Saifuddin Chalim adalah putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pahlawan nasional yang dimakamkan di Leuwimunding Majalengka Jawa Barat.
“Saya sudah pernah ke makam Kiai Abdul Chalim,” ujar Kiai Hendra Zainuddin Al Qodiri.
Menurut Hendra Zainuddin, secara finansial Kiai Asep sudah selesai dengan sendirinya. Bahkan Kiai Asep juga memiliki pesantren besar dengan puluhan ribu santri. Yaitu Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur.
Ia berharap dalam Muktamar NU nanti peserta dari Sumatera Selatan bisa menginap di Pesantren Amanatul Ummah.
“Saya sudah lobi kontingen dari Sumsel bisa diinapkan di Amanatul Ummah,” ujarnya sembari tertawa.
Menurut dia, organisasi JKSN pasti maju jika dipimpin Kiai Asep.
“Kalau dipegang Kiai Asep pasti maju. Seharusnya pemimpin memang seperti itu. Semoga PBNU ke depan dipimpin oleh orang seperti Kiai Asep. Yang sudah selesai dengan sendirinya,” ujarnya.
Bagaimana respons Kiai Asep? Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu mempersilakan peserta Muktamar NU dari Sumatera Selatan menginap di Pesantren Amaantul Ummah. Kiai Asep mengaku banyak gedung yang bisa ditempati para peserta Muktamar NU yang rencananya digelar pada 27 Agustus di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.
Menurut Kiai Asep, Amanatul Ummah sangat terbuka kepada para tamu dari manapun, apalagi para kiai NU dari berbagai daerah.
“Kami punya gedung yang luas terdiri dari kamar-kamar dan pemandangannya menarik dan indah. Gedung ini disebut istana karena tiang-tiangnya seperti Istana Merdeka,” ujar Kiai Asep sembari tertawa.
Acara pelantikan JKSN itu dihadiri para tokoh, guru besar dan alim ulama, terutama NU. Tampak Prof Dr Ahmad Zainuri, Rektor Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Sumatera Selatan (Palembang), Wakil Ketua Umum Pergunu Dr Saepulloh, dan juga hadir Hendri, saudara kembar Ketua PWNU Sumsel Kiai Hendra Zainuddin serta tokoh lainnya.
Dalam taushiahnya Kiai Asep menceritakan peran kiai-kiai pesantren dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Bangsa ini merdeka berkat perjuangan para ulama dan pesantren. Namun saat ini kita menghadapi bentuk penjajahan baru. Cengkeraman asing masih sangat kuat sehingga bangsa kita lebih banyak menjadi negara konsumen dan pasar, bukan menjadi negara produsen. Karena itu, peran kiai dan santri sangat dibutuhkan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat,” ujarnya.
Kiai miliarder tapi dermawan itu juga mengajak para pengasuh pondok pesantren untuk terus melakukan transformasi sembari terus mengawal dan mengembangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
“Pesantren harus mengubah orientasi agar mampu menjawab tantangan zaman. Paham Aswaja tetap harus dikawal sebagai dasar perjuangan, sekaligus mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur,” ujar kiai miliarder tapi dermawan yang pada 2025 mendapat anugerah Bintang Maha Putra Nararya dari Presiden Prabowo Subianto.
Usai pelantikan JKSN Sumsel yang diketuai H. Ahmadi itu Kiai Asep melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah PCNU dan PWNU Sumsel.










