YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, menghadiri acara pelantikan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), bedah buku dan Pendidikan Kader Guru Nahdlatul Ulama (PKGNU) di tiga kabupaten. Yaitu di Kabupaten Pati, Semarang dan Yogyakarta.
Berangkat Jumat (3/7/2026) malam dari Surabaya, Kiai Asep dan rombongan langsung menuju Pati. Kiai Asep tiba di Pati Sabtu (4/7/2026) pagi hari. Sekitar pukul 9.00 WIB Kiai Asep menghadiri Pelantikan Pengurus Pergunu Pati di Gedung DPRD Kabupaten Pati.
Dalam acara itu hadir beberapa pejabat, antara lain perwakilan Pejabat Bupati Pati, anggota DPRD, dan pejabat Dinas Pendidikan serta Kemenag.
Pengurus Pergunu Pati baru yang diketuai Agus itu dilantik oleh Sekjen PP Pergunu Dr Aris Adi Laksono. Seusai pelantikan digelar bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan karya M. Mas’ud Adnan. Acara bedah buku itu dimoderatori Dr Nur Cholid, Ketua PW Pergunu Jawa Tengah.
Buku setebal 520 halaman itu menceritakan sejarah Kiai Asep Saifuddin Chalim sejak kecil dan remaja yang miskin hingga menjadi tokoh, ulama, guru besar dan miliarder yang dermawan.
“Saya disebut kiai miliarder mungkin karena setiap tahun memberikan 600 beasiswa kepada kader NU di seluruh Indonesia,” ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim yang dikenal sebagai kiai miliarder tapi dermawan dalam acara bedah buku tersebut.
Kiai Asep bercerita bahwa saat remaja ia sangat miskin. Ia ditinggal wafat ayahnya, KH Abdul Chalim, saat kelas II SMA. Bahkan ia harus keluar dari sekolah karena tak ada yang membiayai.
Ia lalu mondok di sebuah pesantren di Sidoarjo. “Untuk makan saya cari sisa nasi santri yang masih tertempel di kendil, namanya intip. Saya cari kendil yang tengkurap di tanah yang sudah tak dibutuhkan oleh pemiliknya,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu.
Namun Kiai Asep tak pernah putus asa. Setelah tiga bulan mondok ia putuskan mengembara ke berbagai daerah hingga ke luar Jawa. “Saya mencari tempat yang bisa menampung saya. Kerja apa saja, walau pun angun bebek. Yang penting saya bisa belajar dan mengajar,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu itu.
Ia kemudian tinggal di Surabaya untuk kuliah. Padahal ia tak punya ijazah dan uang. Kiai Asep datang ke kiainya waktu mondok. Ia minta dibuatkan ijazah. Ternyata sang kiai mempersilakan Kiai Asep membuat sendiri termasuk nilainya.
“Saya kasih nilai 9 semua,” ujarnya sembari tertawa.
Untuk uang pendaftaran Kiai Asep mengaku bekerja sebagai kuli bangunan. Sejak itu ia bisa kuliah.
Dalam perjalanan hidupnya Kiai Asep kemudian jadi guru SMP.
“Saya jadi guru SMP di pojok gang,” ujarnya. “Tapi kemudian saya bisa jadi guru besar,” tambah sembari mengatakan bahwa ia sukses karena punya kemauan keras dan besar.
“Saya punya senjata shalat malam,”ujarnya sembari menjelaskan bahwa shalat malam dan doa serta caranya tercantum dalam bagian akhir buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan,
Seusai acara pelantikan Pergunu dan bedah buku, Kiai Asep langsung meluncur ke Semarang. Kiai Asep menuju Universitas Wahid Hasyim (Uwaha) Semarang. Di gedung Fakultas Kedokteran Uwaha Kiai Asep ditemui Rektor Uwaha Prof Dr Ir Helmy Purwanto.
Didampingi sang rektor, Kiai Asep kemudian menuju acara Pendidikan Kader Guru Nahdlatul Ulama (PKGNU) di salah satu ruangan Fakultas Kedokteran Uwaha. Tampak hadir dalam acara itu Sekjen PP Pergunu Dr Aris Adi Laksono, Ketua PW Pergunu Jawa Tengah Dr Nur Cholid dan lainnya.
Dalam acara itu Kiai Asep banyak membahas tentang NU. Termasuk konflik PBNU yang tanpa ujung. Menurut Kiai Asep, PBNU dalam era Rais ‘Aam Syuriah KH Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) serta Sekjen Saifullah Yusuf (Gus Ipul) hingga sekarang tak meninggalkan legacy apapun kecuali konflik yang berkepanjangan. Bahkan untuk menjaga marwah NU tak mampu.
“Kalau era Kiai Said Aqil masih ada wujudnya 30 universitas NU,” ujar putra pahlawan nasional dan juga pendiri NU KH Abdul Chalim itu.
Usai acara PKGNU di Uwaha Semarang Kiai Asep dan rombongan meluncur kembali. Kali ini ke Yogyakarta. Ia tiba di Yogyakarta sekitar pukul 11.30 WIB.
Pada pagi hari, Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 9.00 Kiai Asep menghadiri pelantikan Pergunu Yogyakarta. Acara yang digelar di Gedung Gedung Perwakilan Daerah (DPD) itu dihadiri sejumlah pengurus NU. Antara lain Rais Syuriah PWNU Yogyakarta KH Mas’ud Masduki, Sekretatis PWNU Yogyakarta Dr H. Muhajir, Wakil Ketua Umum Ahmad Zuhri dan tokoh NU Abdul Muhaimin.










