Resmi Dilantik, Kepengurusan Baru PW Pergunu DIY Siap Cetak Pendidik Profesional

YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masa khidmat 2026-2031 resmi dilantik. Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran ulama, akademisi, serta pimpinan badan otonom NU. Momentum ini menjadi ajang refleksi penting mengenai peran strategis guru dalam memajukan pendidikan sekaligus menjaga kedaulatan bangsa.

Ketua PW Pergunu DIY terpilih, Dr. Fauzan, menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremonial. Acara ini merupakan bentuk peneguhan niat untuk berkhidmat secara terukur, sistematis, dan berkelanjutan. Target utamanya adalah menjadikan PW Pergunu DIY sebagai wadah pemersatu para pendidik.

"PW Pergunu DIY harus menjadi rumah besar bagi para guru. Tempat tumbuhnya semangat pengabdian, profesionalisme, dan perjuangan dalam memajukan pendidikan di daerah ini," ujar Dr. Fauzan dalam sambutannya.

Di bawah kepengurusan baru, Pergunu DIY berkomitmen kuat untuk memperkuat konsolidasi organisasi, merancang program kerja yang sistematis, serta meningkatkan kapasitas profesional para guru secara nyata.

Harapan besar juga datang dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta yang diwakili oleh Dr. K.H. Muhajir. Ia mengingatkan para pengurus agar tetap solid dan konsisten. Namun, ia juga menggarisbawahi tiga tantangan akut yang sedang dihadapi organisasi saat ini.

Pertama, problem epistemik terkait adanya salah kaprah makna khidmat yang kerap jauh dari kata profesional.

Kedua, problem tata kelola keorganisasian: potensi munculnya ego sektoral antara Lembaga Ma'arif dan Pergunu, serta problem spiritualitas.

"Jati diri utama pendidik NU adalah spiritualitas dan ruh perjuangan yang diwariskan para muasis pesantren. Kita tidak boleh minder atau sekadar silau dengan lahirnya digitalisasi," pesan KH Muhajir.

Ia juga mengingatkan keistimewaan Pergunu sebagai satu-satunya lembaga di NU yang saat ini masih diasuh langsung oleh putra pendiri (muasis) NU, yaitu Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim (putra pahlawan nasional K.H. Abdul Halim).

Kilas Balik Sejarah dan Formula Empat Pilar

Acara pelantikan ini juga diisi dengan pembekalan (mauidhoh hasanah) oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu, Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A. Dalam paparannya, Kiai Asep mengulas sejarah berdirinya NU pada tahun 1926 melalui samaran Komite Hijaz.

NU lahir membawa dua misi utama: memelihara paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang inklusif dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan santri ini memuncak pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan pertempuran 10 November di Surabaya.

Menanggapi tantangan modern berupa "penjajahan ekonomi gaya baru" dan penguasaan aset oleh oligarki, Kiai Asep menawarkan formula empat pilar untuk membawa Indonesia menjadi negara maju, adil, dan makmur:

  • Ulama dan ilmuwan besar yang aktif menerangi masyarakat.
  • Birokrat yang murni berorientasi pada rakyat.
  • Konglomerat nasionalis yang dermawan.
  • Kaum profesional yang berkualitas.

Kunci Sukses Pendidikan: Karakter Guru dan Kewajiban Murid

Untuk mencetak generasi yang mampu mengisi empat pilar tersebut, Kiai Asep membagikan resep sukses Pondok Pesantren Amanatul Ummah asuhannya yang berhasil meloloskan ratusan santri ke perguruan tinggi top nasional dan internasional.

Ia menekankan lima karakter terpuji yang wajib dimiliki guru Pergunu:

  • Aktif meningkatkan kompetensi secara berkala.
  • Bertanggung jawab mentransfer seluruh kurikulum hingga murid paham.
  • Menjadi teladan moral (uswah hasanah).
  • Memperlakukan murid seperti anak kandung sendiri.
  • Istikamah mendoakan murid.

Sebaliknya, merujuk pada kitab Ta'limul Muta'allim, para murid juga memiliki kewajiban untuk menunjang keberhasilan belajar, antara lain:

  • Memiliki ketekunan yang konsisten (al-jiddu wal muwadzabah).
  • Membatasi makan agar tidak malas (taklilul ghiza).
  • Menjaga wudhu (mudawamatul wudhu).
  • Menjauhi maksiat.
  • Membaca Al-Qur'an secara visual untuk melatih kecerdasan.
  • Melaksanakan salat malam.
  • Tidak jajan sembarangan di luar.

Acara pelantikan ditutup dengan doa bersama. Doa pertama dipimpin langsung oleh Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A., memohon ampunan, kecerdasan murid, serta kejayaan Islam dan kemakmuran Indonesia.

Prosesi disempurnakan dengan doa penuh keberkahan oleh Rais Syuriah PWNU DIY, Drs. K.H. Mas'ud Masduqi. Kedua tokoh ulama ini melangitkan harapan agar seluruh pengurus PW Pergunu DIY yang baru dilantik senantiasa diberi kekuatan dalam mengemban amanah, serta membawa NU terus istikamah menebar manfaat bagi umat dan bangsa hingga hari akhir.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: