Kesiapan Pesantren dalam Menjalankan Program Makan Begizi Gratis

Kesiapan Pesantren dalam Menjalankan Program Makan Begizi Gratis Foto ilustrasi Menteri Haji dan Umrah bersama Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, meninjau program Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: bangsaonline

Oleh: Ghozi Zainuddin, S.Ag

Ketika pemerintah mencanangkan Program Makan Bergizi Gratis () bagi pelajar dan santri, muncul beragam pandangan dari Masyarakat. Sebagian menyambut dengan antusias, sebagian lain meragukan kesiapan lembaga pendidikan, termasuk . Namun jika kita menengok sejarah panjang di Indonesia, keraguan itu sebetulnya terjawab: selalu siap — karena tradisi memberi dan berbagi telah menjadi nadi kehidupannya jauh sebelum program ini hadir.

Dalam khazanah , memberi makan bukan sekadar bantuan sosial, tetapi bagian dari ibadah sosial yang berakar dalam ajaran Rasulullah SAW: “Tidak beriman seseorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Tradisi “berbagi nasi, berbagi berkah” telah lama hidup di setiap pondok, dari dapur sederhana hingga lumbung-lumbung santri yang dibuka untuk mereka yang kekurangan. Maka, bagi bukan hal baru, melainkan tradisi lama yang kini diformalkan oleh negara.

Kesiapan Pesantren: Tradisi yang Telah Terinstitusi

Pesantren tidak perlu menunggu program pemerintah untuk belajar memberi. Setiap hari, pengasuh dan para ustaz telah menanamkan semangat infāq dan shadaqah dalam bentuk paling nyata: menyediakan makan bagi santri. Bagi para kiai, memberi makan santri bukan sekadar tanggung jawab logistik, melainkan bagian dari keberkahan ilmu.

Dalam banyak , dapur telah menjadi pusat spiritual: tempat di mana kesederhanaan diolah menjadi keberkahan. Tidak ada santri yang dibiarkan lapar, karena prinsip bukan efisiensi, melainkan kasih sayang yang menumbuhkan kemandirian. Maka, ketika datang dengan format kebijakan, hanya perlu menyelaraskan tata kelolanya dengan mekanisme formal bukan membangun dari nol.

Inilah yang membedakan dari lembaga pendidikan lain: sistem sosialnya telah terbentuk dari habitus (gaya hidup) berbagi. Ia tidak hanya siap secara fisik, tetapi siap secara mental dan moral. Program hanya menambah bentuk baru dari tradisi lama yang telah hidup: “makan bersama dengan barokah.”

Kekuatan Sumber Daya Manusia Pesantren

Kesiapan tidak hanya terletak pada nilai-nilai, tetapi juga pada sumber daya manusianya (SDM). Pesantren adalah komunitas hidup yang berisi beragam peran: santri, ustaz, pengasuh, dapur umum, hingga alumni yang terlibat aktif. Jaringan sosial ini telah bekerja seperti sistem yang saling melengkapi, bahkan tanpa struktur birokrasi yang rumit.

Banyak memiliki tim logistik, bagian perlengkapan, dan dapur umum yang dikelola secara gotong royong. Mereka terbiasa mengelola konsumsi ratusan bahkan ribuan santri setiap hari, dengan sistem yang efisien dan hemat. Jika mensyaratkan tata kelola pangan dan gizi, hanya perlu memperkuat aspek administratifnya, bukan membangun struktur baru.

Selain itu, tidak kekurangan orang-orang yang kompeten. Banyak di antara alumni dan pengurus yang memiliki keahlian dalam bidang gizi, kesehatan, manajemen, dan agribisnis. Jika negara membuka ruang kolaborasi, maka justru dapat menjadi mitra strategis — bukan hanya penerima manfaat, tetapi pengelola yang andal.

Pemahaman terhadap Santri dan Pemetaan Kebutuhan

Keunggulan yang jarang disadari adalah kemampuannya membaca kebutuhan santri secara tepat. Tidak semua santri datang dari latar belakang ekonomi yang sama; sebagian berasal dari keluarga mampu, sebagian lain datang dari pelosok dengan bekal yang terbatas.

Namun memiliki sistem sosial yang alami dan halus dalam memetakan siapa yang membutuhkan bantuan lebih. Tidak ada diskriminasi, tidak ada label “santri miskin.” Yang ada hanyalah kebersamaan dalam keberkahan. Santri yang berkecukupan sering membantu yang kekurangan, dan semuanya makan di meja yang sama.

Dengan kemampuan ini, dapat menjalankan secara adil dan efisien. Pengasuh dan para ustaz mengenal santrinya secara personal; mereka tahu siapa yang harus didahulukan tanpa perlu survei panjang. Sistem sosial berbasis kedekatan inilah yang menjadikan sangat adaptif terhadap program semacam ini.

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO