Dr KH Malik Madani, MA, Foto: Republika
Kiai Malik Madani kemudian menjelaskan latar belakang kaidah tersebut.
“Dalam Hadits Nabi diceritakan ada dua orang berselisih. Orang yang salah lebih lihai beragumentasi dan menunjukkan bukti-bukti, sedang orang yang benar tak lihai beragumentasi dan menampilkan bukti-bukti. Maka Nabi menyampaikan agar orang yang menang tak boleh mengambil hak kemenangannya. Karena itu potongan api neraka,” kata kiai asal Tanah Merah Bangkalan Madura itu.
Maka para ulama, kata Kiai Malik Madani, menyimpulkan dengan merumuskan kaidah Hukmul haakim laa yughayyirul waaqi’ tersebut
“Saya ingin mengatakan bahwa Islam itu lebih berpihak kepada kebenaran substantif, bukan kebenaran formalistik dan prosedural,” tegas Kiai Malik Madani.
Itulah kenapa Kiai Malik Madani berpendapat agar Kiai Miftah dan Gus Yahya mundur secara elegan ketimbang alasan prosedural AD/ART.
Menurut dia, AD/ART memang harus ditaati, tapi dalam situasi masyarakat demam money politics sulit menegakkan kebenaran. Apalagi jumlah ketua PCNU dan ketua PWNU secara nasional sangat banyak.
Tapi kenapa Kiai Miftah harus mundur dari Rais ‘Aam? “Beliau sendiri sudah mengakui kesalahan Tanfidziyah (Gus Yahya). Itu artinya sudah tidak sejalan dengan Tanfidziyah. Berarti beliau tidak mampu lagi mengendalikan Tanfidziyah,” kata Kiai Malik Madani.
“Tugas syuriah itu mengawasi, membimbing dan menegur jika Tanfidziyah tidak benar. Beliau sudah tidak mampu. Maka secara nilai etik dan moral bertanggungjawab, karena itu solusinya mundur,” tambahnya.
Menurut Kiai Malik Madani, Gus Yahya telah melakukan kesalahan sangat fatal. “Melukai umat Islam se dunia,” tegasnya. Sementara Kiai Miftah tak mampu mengendalikan Gus Yahya. Akibatnya NU menjadi cibiran masyarakat.
Kiai Malik Madani membandingkan peritiwa Gus Yahya dan Kiai Miftah itu dengan kultur tanggungjawab di Jepang dan Korea Selatan.
"Kalau di Jepang dan Korea Selatan rasa malu mengharuskan seorang pejabat mundur, mengapa di NU sebagai pengawal moral terdepan di negeri ini para pengurusnya tidak melakukan seperti itu. Padahal di NU terkenal Hadits Al Hayau minal iman. bahwa malu itu bagian dari iman," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




