Petugas medis sedang menangani salah satu pasien penderita thalasemia. Foto: Ist.
“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi pecutan semangat bagi kami untuk terus menghadirkan layanan kesehatahan terbaik, khususnya pasien thalasemia di Kota Kediri khususnya,” ucap dr. Renyta.
Malichatun Nafiah, adalah salah satu sosok di balik POPTI Kota Kediri yang memperjuangkan hal tersebut. Karena penderita thalasemia, ketersediaan darah untuk transfusi menjadi hal yang sangat penting. Seringkali ketika puasa, atau bebarengan dengan merebaknya kasus demam berdarah, stok darah kosong.
Namun berkat kerja sama yang berhasil dijalin dengan BRIGIF 16/WY sebagai ‘bapak asuh’, ketersediaan darah untuk transfusi thalasemia bisa tercukupi.
“Kami juga seringkali melakukan gathering dengan para orang tua-orang tua lain yang anaknya menderita thalasemia pula untuk saling support, saling menguatkan dan berbagi ilmu serta motivasi,” kata Malicha.
“Selain itu, kami bersama sahabat thalasemia (relawan) untuk saling menguatkan dan berbagai dengan para penderita thalasemia. Sebab, anak-anak thalasemia juga berhak untuk hidup bahagia, berhak untuk memiliki mimpi yang tinggi, sama seperti yang lainnya. Kita coba tumbuhkan semangat tersebut, supaya mereka bangkit dan terus semangat dalam menjalani hidup," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Penyakit thalasemia memang membutuhkan perawatan intensif seumur hidup. Namun bukan berarti mimpi dan masa depan ikut pupus bersamanya. Pemerintah Kota Kediri berkomitmen mendorong anak-anak penderita thalasemia ini untuk bangkit dan mewujudkan mimpi serta cita-citanya. (uji/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




