Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, membaca kitab di depan ribaun santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Jalan Siwalankerto Surabaya, Rabu (6/5/2026). Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline
Untuk SMA lebih banyak lagi. Catatan BANGSAONLINE, tahun 2025 sebanyak 82 santri SMA BP hafal 30 juz. Tahun 2026 tentu bertambah. Untuk santri SMA tahfidz akan diwisuda pada Juni 2026.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu bersyukur sekaligus takjub.
“Saya sendiri menghafal Al Quran itu susah. Anak-anak ini kok sangat gampang. Padahal mereka juga belajar fisika, matematika, biologi. Bahasa Inggris dan pelajaran lainnya,” ujar Kiai Asep.
Prestasi Amanatul Ummah itu mendapat perhatian Dahlan Iskan, tokoh pers nasional. Menurut Dahlan, Amanatul Ummah menyalip prestasi sekolah-sekolah favorit di Indonesia.
“Dulu sekolah Katolik selalu terbaik,” ujar mantan Menteri BUMN itu dalam acara bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan di ITB Stikom Denpasar Bali.
Menurut dia, sekolah Katolik selalu menempati posisi terdepan.
“Setelah itu sekolah Kristen,” katanya.
Urutan berikutnya, tutur Dahlan, sekolah Taman Siswa. Lalu sekolah negeri seperti SMAN atau SMPN.
“Sekolah Islam nomor 5,” kata Dahlan yang memiliki sekitar 60 media di berbagai kota Indonesia.
Jadi, menurut Dahlan, dulu kualitas pendidikan Islam berada pada urutan buncit.
Sekarang justru terbalik. Menurut Dahlan, kini sekolah Islam jauh lebih baik dari sekolak Katolik. Dahlan Iskan menyebut contoh Amanatul Ummah.
“Hebat, santrinya cerdas dan confidence,” ujar Dahlan Iskan dalam acara Inspirasi Indonesia yang digelar MBI Amanatul Ummah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




