Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan saat podcast bersama BANGSAONLINE dalam program Jawara atau akronim dari Jagongan Wakil Rakyat.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan mendorong wisata edukasi agar menjadi penggerak ekonomi di daerah, sesuai dengan program pemerintah daerah setempat di bawah kepemimpinan Rusdi Sutejo dan Shobih Asrori.
Hal tersebut diungkapkan 3 anggota dewan dalam Jawara, akronim dari Jagongan Wakil Rakyat bersama BANGSAONLINE. Adapun 3 narasumber yang hadir adalah Sudiono Fauzan, Mahdi Haris, serta Akhmad Mujangki.
Mereka membedah potensi wisata edukasi sebagai strategi pembangunan daerah. Sudiono Fauzan menekankan pentingnya paradigma baru pembangunan berbasis desa, serta menyebut kebijakan makro pembangunan harus memastikan desa tidak tertinggal dari pusat kota.
“Wisata edukasi seperti susu di Tutur atau kopi di pegunungan punya efek pengganda. Dengan membangun wisata edukasi di desa, kita sedang menyiapkan infrastruktur ekonomi yang bertahan lama, bukan sekadar proyek jangka pendek,” paparnya.
Sementara itu, Mahdi Haris menyoroti aspek teknis aksesibilitas. Menurut dia, jalur wisata harus dipastikan layak agar pengunjung tidak kapok.
“Kami sedang memetakan jalur emas wisata. Prioritas pengaspalan dan pelebaran jalan tahun ini diarahkan ke desa wisata rintisan. Wisata edukasi butuh akses yang memadai, bus sekolah maupun bus pariwisata harus bisa masuk sampai lokasi,” ujarnya.
Disampaikan pula, pembangunan fisik tidak hanya pada objek wisata, tetapi juga pada 'pembuluh darah' berupa jalan yang menghubungkan destinasi.
Sedangkan Akhmad Mujangki menekankan kontribusi wisata edukasi terhadap PAD atau pendapatan asli daerah. Ia juga menambahkan pentingnya digitalisasi, seperti jaringan internet dan sistem pembayaran QRIS, agar pencatatan PAD lebih transparan.
“Kita tidak hanya bicara tiket masuk. PAD bisa dari retribusi parkir, pajak restoran, hingga pembagian hasil BUMDes. Jika 100 desa wisata edukasi berjalan mandiri, serapan tenaga kerja akan mengurangi beban subsidi sosial daerah. Itu kontribusi nyata bagi ekonomi Pasuruan,” katanya.
Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa pembangunan wisata edukasi harus berbasis eco-tourism. Dewan menekankan sinergi dengan program kepala daerah sebagai kunci menjadikan Kabupaten Pasuruan pusat wisata edukasi di Jawa Timur.
“Setiap izin fisik bangunan wisata wajib menyertakan ruang terbuka hijau. Kita ingin membangun tanpa menggusur alam,” kata Mas Dion, sapaan akrab Sudiono Fauzan. (red)














