Bendahara Umum PP KAMMI, Wira Putra. (Ist)
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Bendahara Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Wira Putra, menyayangkan pernyataan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan istilah yang tidak proporsional dan cenderung mendelegitimasi kebijakan publik.
Menurutnya, kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah bagian dari demokrasi yang sehat. Namun, kritik harus disampaikan secara objektif, berbasis data, dan tidak membangun framing yang berlebihan tanpa dasar pembuktian yang sah.
BACA JUGA:
- Lantik Pengurus Anak Cabang se-Pasuruan Raya, Sekretaris DPD PDIP Jatim Singgung soal MBG
- Menham Pigai Soroti Dugaan Keracunan MBG di Surabaya, SPPG Dinilai Layak Dihentikan
- 200 Siswa Surabaya Diduga Keracunan MBG, Ning Lia: Harus Ada Penyesuaian Porsi Sesuai Kemampuan SPPG
- Petaka! Ratusan Siswa dari 12 Sekolah di Surabaya Keracunan MBG dari SPPG Tembok Dukuh
“Menuding sebuah program nasional sebagai ‘maling’ tanpa dasar audit atau temuan hukum yang jelas justru berpotensi menyesatkan opini publik. Jika ada kekhawatiran soal tata kelola, maka solusinya adalah penguatan pengawasan, bukan pembunuhan karakter kebijakan,” tegas Wira, Sabtu (21/2/2026).
Wira Putra yang juga mantan Ketua BEM Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut menegaskan, MBG tidak bisa dilihat secara sempit sebagai program makan gratis semata. Ia menyebut, program tersebut sebagai bagian dari transformasi arah pembangunan ekonomi nasional.
“Selama satu dekade terakhir, pembangunan banyak bertumpu pada infrastruktur fisik. Kini negara mulai menggeser fokus pada penguatan kualitas manusia dan sektor produksi rakyat. MBG adalah lokomotif perubahan itu. Kalau sebelumnya pembangunan berfokus pada beton dan aspal, kini negara mulai menggerakkan beras, telur, dan sayur dari desa. Ini perubahan paradigma pembangunan,” papar Wira.
Program MBG, lanjut Wira, menciptakan permintaan tetap terhadap hasil pertanian, peternakan, dan produk pangan lokal. Kebutuhan beras, telur, sayur, dan protein hewani dalam skala nasional akan menghidupkan rantai pasok ekonomi hingga ke desa-desa.
“Ketika jutaan anak menerima asupan bergizi setiap hari, maka petani memiliki pasar yang pasti, peternak memiliki pembeli tetap, dan UMKM pangan bergerak. Ini bukan sekadar konsumsi, ini adalah stimulus ekonomi produktif yang memperkuat ekonomi desa,” jelasnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




