Tanggapan KAMMI soal Kritik Ketua BEM UGM: Jangan Jadi Alat Delegitimasi MBG

Tanggapan KAMMI soal Kritik Ketua BEM UGM: Jangan Jadi Alat Delegitimasi MBG Bendahara Umum PP KAMMI, Wira Putra. (Ist)

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Bendahara Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Wira Putra, menyayangkan pernyataan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan istilah yang tidak proporsional dan cenderung mendelegitimasi kebijakan publik.

Menurutnya, kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah bagian dari demokrasi yang sehat. Namun, kritik harus disampaikan secara objektif, berbasis data, dan tidak membangun framing yang berlebihan tanpa dasar pembuktian yang sah.

“Menuding sebuah program nasional sebagai ‘maling’ tanpa dasar audit atau temuan hukum yang jelas justru berpotensi menyesatkan opini publik. Jika ada kekhawatiran soal tata kelola, maka solusinya adalah penguatan pengawasan, bukan pembunuhan karakter kebijakan,” tegas Wira, Sabtu (21/2/2026).

Wira Putra yang juga mantan Ketua BEM Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut menegaskan, MBG tidak bisa dilihat secara sempit sebagai program makan gratis semata. Ia menyebut, program tersebut sebagai bagian dari transformasi arah pembangunan ekonomi nasional.

“Selama satu dekade terakhir, pembangunan banyak bertumpu pada infrastruktur fisik. Kini negara mulai menggeser fokus pada penguatan kualitas manusia dan sektor produksi rakyat. MBG adalah lokomotif perubahan itu. Kalau sebelumnya pembangunan berfokus pada beton dan aspal, kini negara mulai menggerakkan beras, telur, dan sayur dari desa. Ini perubahan paradigma pembangunan,” papar Wira.

Program MBG, lanjut Wira, menciptakan permintaan tetap terhadap hasil pertanian, peternakan, dan produk pangan lokal. Kebutuhan beras, telur, sayur, dan protein hewani dalam skala nasional akan menghidupkan rantai pasok ekonomi hingga ke desa-desa.

“Ketika jutaan anak menerima asupan bergizi setiap hari, maka petani memiliki pasar yang pasti, peternak memiliki pembeli tetap, dan UMKM pangan bergerak. Ini bukan sekadar konsumsi, ini adalah stimulus ekonomi produktif yang memperkuat ekonomi desa,” jelasnya.

Wira juga menanggapi narasi bahwa MBG menggeser prioritas anggaran pendidikan. Menurutnya, gizi dan pendidikan bukanlah dua hal yang saling meniadakan.

“Anak yang kekurangan gizi akan kesulitan menyerap pelajaran. Investasi pada gizi adalah investasi pendidikan jangka panjang. Kualitas SDM tidak bisa dibangun hanya dengan ruang kelas, tetapi juga dengan kesehatan yang memadai,” katanya.

Ia menambahkan bahwa istilah gratis dalam kebijakan publik merujuk pada tidak adanya biaya langsung bagi penerima manfaat, bukan berarti tanpa anggaran negara.

“Semua program negara bersumber dari pajak rakyat. Pertanyaannya bukan gratis atau tidak, tetapi apakah program itu memberi dampak produktif bagi rakyat. Dalam konteks MBG, jawabannya jelas, ya sangat memberi dampak kepada masyarakat,” tandasnya.

Sebagai organisasi mahasiswa, lanjut Wira, KAMMI menyatakan siap mengawal implementasi program agar berjalan transparan dan tepat sasaran.

“Kritik harus diarahkan pada perbaikan tata kelola, bukan pada delegitimasi tujuan mulia program. Jika ada celah penyimpangan, mari kita awasi bersama. Tapi jangan kita matikan harapan jutaan anak dan potensi kebangkitan ekonomi desa hanya karena perdebatan politik,” tutupnya.