Bupati Jember, Gus Fawait.
JEMBER ,BANGSAONLINE.com – Dalam memperingati satu tahun kepemimpinan Bupati Jember, Muhammad Fawait, pemerintah kabupaten menggelar refleksi bertajuk Setahun Berkarya, Maju Bersama Rakyat, pada Jumat (20/2/2026).
Dalam arahannya, Gus Fawait, sapaan Bupati Jember memaparkan berbagai perubahan dalam tata kelola pemerintahan sejak ia dilantik pada 20 Februari 2025 lalu.
Gus Fawait menyebut, tahun pertama kepemimpinannya sebagai periode penataan ulang fondasi birokrasi dan pelayanan publik.
Ia menganggap, awal masa pemerintahannya diwarnai tantangan berat, terutama akibat tekanan fiskal dan tingginya angka kemiskinan. Karena itu, fokus utama diarahkan pada pembenahan layanan dasar yang sebelumnya dinilai kurang optimal.
Gus Fawait menceritakan, di awal masa jabatannya pemerintah daerah menghadapi beban utang tiga rumah sakit daerah yang mencapai Rp214 miliar. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Jember menggulirkan program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas mulai 1 April 2025.
“Kini, warga Jember cukup menunjukkan KTP untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis. Kebijakan ini tidak hanya membantu rakyat, tapi juga berhasil memulihkan kondisi finansial rumah sakit daerah yang kini justru mencatatkan kenaikan pendapatan,” ujar Gus Fawait.
Kebijakan tersebut dirancang agar akses kesehatan semakin mudah tanpa prosedur berbelit. Di sisi lain, pembenahan manajemen rumah sakit dilakukan agar kondisi keuangan fasilitas kesehatan daerah kembali stabil.
Perbaikan juga menyasar administrasi kependudukan. Pemkab mengklaim telah menyelesaikan persoalan kelangkaan blanko KTP yang terjadi sejak 2019. Lewat inovasi bertajuk Peta Cinta, proses pencetakan puluhan ribu KTP kini dilakukan di tingkat kecamatan sehingga masyarakat tidak lagi harus menunggu lama di pusat layanan.
Di bidang pendidikan, lanjut Gus Fawait, pembaruan difokuskan pada validasi data Dapodik agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran. Upaya tersebut membuahkan hasil berupa kucuran dana revitalisasi sekolah rusak terbesar yang pernah diterima Jember dari pemerintah pusat.
Tak hanya infrastruktur, penguatan sumber daya manusia turut diperhatikan. Pemerintah daerah menyalurkan beasiswa afirmasi bagi sekitar 8.000 mahasiswa, termasuk jalur khusus bagi kalangan santri.
Sektor pertanian pun mendapat perhatian signifikan. Integrasi anggaran dari APBN dan APBD disebut menghasilkan alokasi dana terbesar dalam empat dekade terakhir untuk bidang ini.
Anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan alat dan mesin pertanian, distribusi benih, serta pembenahan infrastruktur lahan.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, Jember justru mencatat kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 32 persen. Pemerintah daerah mengklaim peningkatan itu dicapai tanpa menaikkan tarif pajak, melainkan melalui perbaikan sistem dan optimalisasi potensi lokal.
Menutup pemaparannya, Gus Fawait menekankan bahwa capaian sepanjang 2025 baru menjadi pijakan awal bagi rencana jangka panjangnya.
“Tahun 2025 adalah fondasi. Kita pastikan pelayanan dasar berdiri kokoh. Tahun 2026 adalah waktunya percepatan,” tutupnya. (nga/yud/msn)













