Relasi Kuasa: Perbedaan Sistem Pesantren dan Feodalisme-Fasisme

Relasi Kuasa: Perbedaan Sistem Pesantren dan Feodalisme-Fasisme Aguk Irawan MN. Foto: ist

Pertama, perbedaan pada dasar relasi. Sistem dilandasi oleh nilai agama, adab dan spiritual, sementara dalam dan dilandasi kekuasaan semata dan status ekonomi kapital.

Kedua, perbedaan ada pada posisi dan status sosial. Kiai/ustadz dihormati karena ilmu dan keteladannya, sementara dalam praktek dan , tuan dihormati karena kekayaan dan keturunan bangsawannya.

Ketiga, perbedaan ada pada cara kerja ketaatannya. Kiai ditaati karena keikhlasan, keberkahan dan maunah-karomah (spiritual)-nya, sementara dalam dan tuan ditaati karena ketakutan dan keterpaksaan.

Keempat, perbedaan dalam kegiatan sosialnya. Pada sistem ada tradisi roan atau gotong-royong yang dilakukan dengan kesadaran suka-rela, tabaruk dan ada unsur ta'lim (edukasi), sementara dalam feodalime dan gotong-royong dilakukan hanya untuk kepentingan penguasa.

Kelima, perbedaan pada mobilitas sosialnya. Dalam sistem , santri biasa (bukan Gus/Ningrat) kelak bisa menjadi Kiai, bahkan sangat dihormati karena prestasinya, sementara dalam feodaliame dan ditentukan status-quo kebangsawanan.

Keenam, perbedaan pada perlakuan kapasitas intelektualnya. Dalam , perbedaan pendapat bisa diterima dan biasa dibahas di forum ilmiah (bahsul masail) dengan basis akademis, sementara dalam sistem feodal dan keputusan hanya dari penguasa. Tidak boleh ada perbedaan pendapat.

Ketujuh, perbedaan mencolok ada pada tujuannya. Dalam santri mencari ilmu, panutan, keberkahan dan puncaknya ridloh Allah, sementara dalam sistem dan faisme, tuan dan sistemnya semata-mata hanya untuk melanggengkan kekuasaan dan hirarki sosialnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sistem memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri dibandingkan dengan sistem kekuasaan lainnya. Oleh karena itu, relefansinya dengan masyarakat masih dibutuhkan dan perlu juga dilakukan upaya untuk mempertahankan dan mensinergikan dengan kebutuhan zaman supaya bisa lebih diterima, serta terus mempromosikan nilai-nilai moral yang berbasia islam yang moderat dan rahmatan lilalamin. Wallahu'alam bishawab.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO