Sang Rekonsiliator itu Telah Pergi (Obituari untuk Mas Imam Aziz)

Sang Rekonsiliator itu Telah Pergi (Obituari untuk Mas Imam Aziz) Muhammad Imam Aziz. Foto: Gatra

Saya berjumpa agak intensif dengan Mas Imam berikutnya ketika masa darurat Gempa 2006. Hampir setiap malam, kalau tidak di kantor LKiS di kantor Syarikat, kami bersama-sama menjadi relawan tanggap darurat gempa. 

Saat itu saya benar-benar menyaksikan sendiri bagaimana taktisnya pikiran-pikiran Mas Imam, dalam pengelolaan musibah gempa disertai bagan-bagan yang dibuat secara spontan saat diskusi berlangsung. 

Lebih dari itu, jaringan Mas Imam, baik di dalam dan luar negeri amat luas untuk bisa dilibatkan dalam kerja kemanusian, mulai dari bantuan logistik, shelter sampai rumah permanen. Dua diantaranya adalah Cordaid dan IOM.

Pasca tanggap darurat Gempa, masih pada tahun-tahun itu, saya juga bersyukur, turut terlibat dalam program pendampingan pemulung dan anak-anaknya yang tinggal di bantaran Kali Code dan Mas Imam sebagai salah satu instrukturnya. Perkampungan ini terletak di daerah Sorowajan dan memanjang dengan dibelah sungai. Disitulah kami mendirikan mushala di tengah dikelilingi rumah semi permanen dengan bahan seadanya. "Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan dan bergembira," kata Mas Imam.

Pertemuan terakhir dan terasa istimewa pada helatan reuni jamaah LKiS tanggal 21 Juni 2025 yang lalu di Museum Sandi, Mas Imam nampak segar dan bugar, tak ada tanda-tanda sakit yang sebelumnya pernah dikabarkan bahwa Mas Imam sakit deabetes. 

Persis usai shalat magrib saya duduk di belakang, tak dinyana istrinya Mas Imam, Mbak Rindang memanggil-manggil saya untuk bisa duduk di depan, tapi saya tak bergeming, karena tahu diri saya hanyalah santri, dan memilih kursi di belakang adalah caraku menjadi santri dari guru-guru di LKiS.

Tetapi apa boleh buat Moderatur berkali-kali memanggil saya untuk memimpin bacaan tahlil, apalagi dengan klaim permintaan Mas Imam Aziz, mau tidak mau, siap tidak siap ini adalah panggilan dari Kiai untuk santri, sayapun terpaksa maju ke depan dan duduk tidak jauh dari Mas Imam. 

Sebelum hari H reuni itu, saya diminta oleh ketua Panitia, Gus Baihaqi, katanya atas permintaan Mas Imam agar semua yang ada di group LKiS dijapri satu-persatu untuk memastikan kehadirannya. Mungkin ini adalah caranya untuk pamitan.

Diantara riak gelombang kehidupan yang tak pernah berhenti, satu sosok besar itu telah pergi meninggalkan kita. Mas Imam Aziz, pejuang rakyat pinggiran yang tak kenal lelah, telah menutup mata di tengah hiruk pikuk dunia yang terus berputar. Namun, jejak langkahnya akan tetap abadi dalam sejarah perjuangan kita.

Mas Imam Aziz, dengan hati yang lembut, tetapi menyimpan bara api semangat dan jiwa yang tak pernah menyerah, telah menjadi simbol harapan bagi banyak orang. Almarhum telah banyak berjuang dengan gigih, melawan ketidakadilan dan menentang penindasan semasa Orba, membawa cahaya bagi mereka yang teraniaya. Setiap langkahnya adalah manifestasi dari keberanian dan keteguhan hati.

Di balik senyumnya yang hangat dan tatapan matanya yang tajam, Mas Imam Aziz menyembunyikan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa. Ia adalah contoh nyata dari seorang pejuang sejati yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga mewujudkannya dengan tindakan nyata.

Kini, Mas Imam Aziz telah pergi, meninggalkan duka yang mendalam di hati kita semua. Namun, warisannya akan terus hidup dalam jiwa kita. Ia telah mengajarkan kita bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia, bahwa setiap langkah kecil kita dapat membawa perubahan besar. 

Semoga kita bisa meneruskan perjuangannya dengan semangat yang sama, dengan keberanian yang sama, dan dengan cinta yang sama terhadap sesama. Semoga semua amalnya diterima Allah subhanallah Ta'ala, dan kita semua dapat menjadi lebih baik karena kehadirannya pernah dekat dan di tengah kita. Amin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO