Jumat, 14 Agustus 2020 11:35

Bencana Kekeringan dan Penanggulangan Banjir Menjadi Atensi Pemkab Pacitan

Rabu, 16 Oktober 2019 10:48 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Bencana Kekeringan dan Penanggulangan Banjir Menjadi Atensi Pemkab Pacitan
Yudo Tri Kuncoro, Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas PUPR Pacitan. (foto: Yuniardi Sutondo/BO)

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Bencana kekeringan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Pacitan. Di samping bencana banjir dan tanah longsor yang juga mulai mengintai seiring akan datangnya musim penghujan di penghujung tahun nanti.

Terkait hal tersebut, pemkab setempat tengah mempersiapkan sejumlah langkah guna melakukan tindakan kedaruratan dan antisipasi terjadinya segala risiko bencana. Salah satunya dengan optimalisasi sumur bor dalam dengan penerapan teknologi solar cell untuk membantu distribusi air bersih saat kemarau.

Kabid Pengelolaan Sumberdaya Air Dinas PUPR Pacitan, Yudo Tri Kuncoro mengatakan sudah ada 62 titik sumur bor dalam di Pacitan. Dari jumlah tersebut, 20 di antaranya berfungsi baik dan 42 di antaranya memang tidak befungsi secara optimal.

"Tidak berfungsinya puluhan sumur bor tersebut karena operasional pemeliharaan yang mahal. Selain itu di kawasan sekitar sudah terjangkau PDAM dan Pamsimas. Selain itu, ada yang debit sumunya kecil dan airnya bau. Serta ada juga yang mesin generatornya hilang," kata Yudo saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (16/10).

Karena itu saat kunjungan bencana beberapa waktu lalu, lanjut dia, Bupati Indartato menginginkan adanya win-win solution dengan penerapan tenaga solar cell untuk menggerakkan generator.

"Ini teknologi ramah lingkungan. Sebab hanya memakai sinar matahari, dan energi terbarukan. Kita pernah uji coba dan biayanya hanya habis Rp 8 juta, air sudah bisa mengalir deras saat siang hari," jelasnya.

Kemudian untuk penanggulangan dampak bencana banjir, Yudo menegaskan, saat ini pemkab terus melakukan koordinasi dengan pihak BBWS guna perbaikan sejumlah parapet sungai. Sebab, saat bencana alam tahun 2017 lalu, ada parapet di kawasan Desa Kembang yang jebol sepanjang 70 meter.

"Saat ini sudah kita lakukan upaya penguatan tebing dan penambalan titik yang jebol. Memang persoalan ini cukup rumit. Selain keterbatasan anggaran, juga keterbatasan kewenangan. Akan tetapi komunikasi terkahir dengan pihak BBWS, akan ada pengalokasian anggaran di perubahan APBN Tahun 2020 yang diambilkan dari sisa tender," ungkap Yudo.

Selain itu, di kawasan Arjosari, tepatnya di Desa Karangrejo saat ini tengah dilakukan proses pendalaman sungai dan hampir mendekati finishing. Sedangkan untuk waduk Tukul, Yudo mengungkapkan, masih membutuhkan proses panjang. Sebab pada kontrak awal lalu, sempat mengalami beberapa adendum yang disebabkan oleh kerusakan konstruksi akibat bencana banjir Tahun 2017.

"Yang utama perlunya konstruksi pengaman tebing dan penguatan tebing. Tentu persoalan ini akan banyak menyita anggaran. Sekitar Desember atau awal tahun 2020, baru akan dilaksanakan kontrak tahap kedua. Saat ini masih ada kekurangan penyelesaian main dam atau bendungan utama dan jalan inspeksi atau jalan yang mengelilingi tubuh bendungan," pungkasnya. (yun/dur)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 12 Agustus 2020 20:53 WIB
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Mengantisipasi lonjakan penumpang saat libur panjang sekaligus meningkatkan bentuk pelayanan, KAI Daop 7 Madiun akan mengoperasikan dua KA Brantas, yakni KA 117 dan KA 118 relasi Blitar-Pasar Senen.Manajer Humas PT KAI Dao...
Kamis, 13 Agustus 2020 16:50 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo---Ketika HARIAN BANGSA mengontak untuk membahas pilkada 9 Desember 2020, saya sedang bersungguh-sungguh untuk menyuguhkan argumentasi mengenai krisis pangan yang akan mengancam, apabila negeri ini tidak mampu membang...
Kamis, 13 Agustus 2020 09:55 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...