Bedah buku Sejarah Bassra, Potret Perjuangan Ulama Madura. Foto: AHMAD FAUZI/BANGSAONLINE
BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Bassra atau Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura diminta melakukan refleksi internal agar keberadaannya semakin dirasakan masyarakat. Dorongan juga diberikan agar Bassra bertransformasi seiring perubahan zaman, khususnya di era Artificial Intelligence (AI).
Hal tersebut disampaikan KH Imam Buchori saat membuka acara bedah buku Sejarah Bassra, Potret Perjuangan Ulama Madura, Selasa (11/2/2026). Ia menegaskan, fokus utama Bassra harus kembali pada persoalan Madura, baik sumber daya alam maupun kualitas sumber daya manusia.
“Fokus Bassra harus pada persoalan Madura dan masyarakatnya. Tidak perlu terlalu memikirkan persoalan nasional di luar kepentingan Madura,” ujarnya.
Disampaikan pula olehnya, Bassra memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat Madura di perantauan, terutama dalam peningkatan kualitas SDM dan kesejahteraan umat.
Narasumber bedah buku, KH Masduki Baidlowi, menekankan perlunya perubahan pola gerakan Bassra di tengah era algoritma AI.
“Tantangan Bassra ke depan semakin berat. Terjadi perubahan besar dalam masyarakat. Pola komunikasi berubah, cara berguru juga berubah,” katanya.
Ia menilai, otoritas moral ulama kini mulai tergerus oleh dominasi algoritma yang lebih mengedepankan viralitas dibanding kebijaksanaan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




