Taushiyah di Pelantikan Pergunu-JKSN Kalteng, Kiai Asep Ngaku pernah Melamar Jadi Tukang Parkir

Taushiyah di Pelantikan Pergunu-JKSN Kalteng, Kiai Asep Ngaku pernah Melamar Jadi Tukang Parkir DARI KIRI: Prof. Dr. H. Ahmad Dakhoir, S.H.I., M.H.I. Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dan M Mas'ud Adnan. Foto: Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk

PALANGKARAYA, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, menghadiri pelantikan Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis (29/1/2026).

Acara yang digelar di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur, di Palangkaraya Kalteng itu dihadiri Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo dan sejumlah tokoh Kalteng. Pantauan BANGSAONLINE di lokasi acara tampak Ketua PWNU Kalteng HM Wahyudie F Dirun, Ketua PCNU Palangkaraya H. Syahrun, Ketua Pembina Pondok Pesantren Amanatul Ummah Humbang Raya H. Junaedi Siregar, dan tokoh lainnya.

Juga hadir bersama Kiai Asep, antar lain, Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk dari Unversitas Al Azhar Mesir yang menjadi guru tugas di Amanatul Ummah, Prof Dr Fadly Usman, Wakil Rektor Universitas KH Abdul Chalim, Boedi Boedi Prijo Soeprajitno, mantan Kepala Bapenda Pemprov Jatim dan lainnya.

PW Pergunu Kalteng dipimpin Muliani, M.Pd, sedangkan JKSN Kalteng dipimpin Nuryakin. Muliani dilantik bersama pengurus Pergunu yang lain oleh Sekjen Pergunu Dr Aris Adi Laksono. Sedang Nuryakin dan pengurus JKSN Kalteng dilantik oleh Sekjen JKSN Muhammad Ghofirin.

Wagub Kalteng Edy Pratowo sangat mengepresiasi formasi pengurus Pergunu dan JKSN.

“Kami membutuhkan mitra strategis untuk menyosialisasikan dan mengimplementasikan program-program pembangunan, termasuk di bidang pendidikan dan penguatan keluarga,” ujar Wagub Edy Pratowo.

Edy Pratowo berharap, terbentuknya Pergunu dan JKSN ini bisa memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berlandaskan akhlakul karimah dan keimanan di Kalteng.

Seusai acara pelantikan digelar bedah buku berjudul Kiblat Dunia Islam dan Perdaban Dunia yang ditulis M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE. Buku ini merupakan catatan jurnalistik M. Mas’ud Adnan yang mengikuti kunjungan Kiai Asep ke beberapa perguruan tinggi di Mesir, Maroko, Brunei Darussalam, dan negara lainnya.

Sebelumnya, Mas’ud Adnan juga menulis Buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan yang merupakan perjalanan hidup Kiai Asep.

Bedah buku itu dimoderatori Rektor UIN Palangkaraya Prof. Dr. H. Ahmad Dakhoir, S.H.I., M.H.I. Sementara Kiai Asep Saifuddin Chalim dan Mas’ud Adnan jadi pembicara.

Kiai Asep mengungkap perjalanan hidupnya waktu remaja yang getir. Ia ditinggal wafat ayahandanya, KH Abdul Chalim, saat kelas 2 SMA Negeri di Sidoarjo. Ia langsung drop out dari sekolah karena tak ada yang membeayai.

Asep kecil pun luntang-lantung. Ia pernah melamar jadi tukang parkir.

“Tapi tidak diterima,” ujar Kiai Asep yang kini menjadi miliarder tapi dermawan.

Asep kecil yang saat itu menginjak usia remaja juga pernah berusaha menjadi penjual rokok asongan di terminal Joyoboyo Wonokromo Surabaya. Ia bersama temannya sudah punya kotak tempat rokok masing-masing.

“Tapi sewaktu saya mau mengangkat kotak tempat rokok saya gak bisa. Padahal rokok itu sudah saya tata. Teman saya bisa. Ia kemudian berjualan rokok di terminal,” kata Kiai Asep.

Ia mengaku tak sanggup berdiri karena malu bertemu orang-orang yang dikenalnya di terminal tersebut.

“Saya akhirnya pilih kerja bangunan,” tutur Kiai Asep sembari mengatakan bahwa ia kerja bangunan selama enam bulan.

Kiai Asep kerja bangunan itu untuk mengumpulkan uang buat daftar kuliah. “Tapi saya gak punya ijazah,” kata Kiai Asep sembari tersenyum. "Mungkin hanya saya orang yang berterus terang gak punya ijazah," tambahnya sembari tertawa.

Akhirnya Kiai Asep datang ke kiainya tempat mondok.

“Kata kiai saya, ya buat sendiri. Saya tanya nilainya gimana. Kiai menjawab, buat sendiri. Saya buat saja semuanya nilai sembilan,” ujar Kiai Asep yang langsung disambut tawa peserta bedah buku secara bergemuruh.

Kiai Asep akhirnya bisa kuliah. Sejak itu ia mulai merintis profesi guru.

“Saya mengajar di berbagai sekolah, di berbagai tempat, karena butuh uang,” ujar Kiai Asep yang mengaku pernah menjadi guru SMP dipojok gang di Surabaya.

Yang menarik, Kiai Asep tidak mengajar agama. Tapi mengajar matematika, bahasa Inggris, fisika, dan pelajaran umum lainnya.

“Saya juga pernah mengajar olah raga,” kata Kiai Asep. Lagi-lagi Kiai Asep tersenyum.

“Karena untuk mengajar pelajaran agama sudah penuh,” tambah Kiai Asep.

Kiai Asep juga bercerita bahwa saat remaja pernah nekat melamar beberapa cewek. Tapi lamarannya selalu dikembalikan. “Ya diterima tapi kemudian dikembalikan karena saya dianggap tak punya masa depan,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa saat itu profesi guru masih dianggap rendah karena gajinya kecil.

Sedangkan cewek yang dilamar Kiai Asep, diantaranya, kuliah di fakultas kedokteran gigi.

Ia kemudian menikah dengan seorang gadis SMP yang sebelumnya tidak ia kenal. Tapi kabarnya cewek itu cucu seorang waliyullah. Bahkan masih keturunan Sunan Gunung Jati Jawa Barat. Kiai Asep dan isterinya memang berasal dari Cirebon Jawa Barat.

“Katanya kakeknya pernah berpesan kalau nanti ada putra KH Abdul Chalim melamar cucu saya harus diterima, jangan ditolak,” ujar Kiai Asep.

Gadis itu kemudian diketahui bernama Fadhilah. Kiai Asep menambahkan nama Alif sehingga menjadi Alif Fadhilah.

Uniknya, ternyata penolakan beberapa cewek terhadap Kiai Asep waktu muda merupakan blessing in disguise atau berkah terselubung. Buktinya Nyai Alif Fadhilah bukan hanya menjadi pendamping setia tapi juga banyak membawa berkah. Bahkan perempuan yang telah mempersembahkan sembilan putra-putri itu juga memiliki talenta bisnis tinggi.

“Penghasilan bu Nyai Alif Fadhilah tiap bulan dua miliar,” ujar Mas’ud Adnan sembari mengatakan bahwa penghasilan itu berasal dari berbagai usaha, terutama kantin di Pesantren Amanatul Ummah.

Menurut Mas’ud Adnan, perjalan hidup dan karakter Kiai Asep itu sesuai dengan hasil penelitian Thomas J Stanley, penulis dan ahli teori bisnis Amerika Serikat. Stanley meneliti 1001 orang sukses di Amerika, 703 diantaranya adalah miliarder. Mereka didatangkan ke hotel satu persatu untuk diwawancarai.

Hasilnya penelitiannya, tutur Mas’ud Adnan, ada 100 faktor yang membuat para tokoh di Amerika itu sukses. “Pertama, karena jujur. Jadi faktor kejujuran menjadi faktor nomor satu orang menjadi sukses,” ujar alumnus Pesantren Tebuireng dan Pascasarjana Unair itu.

“Dalam kontek Kiai Asep, siapa yang meragukan kejujuran beliau,” ujar Mas’ud Adnan.

“Kedua, disiplin. Ketiga, pandai bergaul dan keempat dukungan pasangan. Semua ini ada pada Pak Kiai Asep,” tutur Mas’ud Adnan lagi.

“Kelima bekerja keras. Sudah cukup 5 faktor itu,” ujar Mas’ud Adnan.

“Karena itu Pak Yai Asep menjadi kiai sukses. Dan sukses Kiai Asep bukan hanya piawai mencetak santri cerdas dan berpretasi tapi juga sukse mendidik sembilan putra-putrinya. Putra-putrinya banyak yang lulusan Universitas Al Azhar Mesir, termasuk menantunya. Juga ada yang lulusan perguruan tinggi Maroko dan Inggris,” ujar Mas’ud Adnan.