Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dan Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk saat shalat malam dan bermalam di Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Desa Humbang Raya, Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Rabu (28/1/2026). Foto: MMA/bangsaonline
KAPUAS, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, kembali bermalam di Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Desa Humbang Raya, Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Rabu (28/1/2026).
Kali ini Kiai Asep mengajak Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk, staf pengajar Universitas Al Azhar Mesir yang sekarang bertugas di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan juga mengajar di Universitas KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur.
Selain Syakih Mabruk, rombongan Kiai Asep juga terdiri dari Wakil Ketua Umum Pergunu Prof Dr Fadly Usman, Sekjen Pergunu Dr Aris Adi Laksono, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE M. Mas'ud Adnan, mantan Kepala Bapenda Pemprov Jatim Boedi Prio Soeprajitno, Sekjen JKSN Muhammad Ghofirin, dan rombongan Kiai Asep yang lain
“Ini luar biasa. Cepat perkembangannya. Jauh dengan ketika saya mendirikan Amanatul Ummah di Pacet," kata Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, kepada BANGSAONLINE sembari melihat-lihat pembangunan di Pesantren Amanatul Ummah Humbang Raya.
Di pesantren ini memang sudah berdiri gedung dua lantai untuk Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Juga telah berdiri kamar-kamar santri yang terbuat dari kayu. Kamar-kamar itu menampung 11 santri untuk sementara.
Bahkan juga telah dibangun rest area di depan pesantren , tepatnya di pinggir jalan ke arah Palangkaraya dan Kapuas di pinggir jalan raya.
Juga telah lama berdiri masjid yang arsitekturnya terbuka tanpa dinding. Namanya Masjid An-Nur Humbang Raya.
Nah, di masjid inilah Kiai Asep memimpin shalat malam yang diikuti para santri, ustadz, dan pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kalimantan Tengah (Kalteng).
Juga ikut berjemaah shalat malam Ketua PCNU Palangkaraya H. Muhammad Syahrun dan Ketua Pembina Pondok Pesantren Amanatul Ummah Humbang Raya H. Junaedi Siregar dan pengurus NU lainnya.
Pesantren ini memang diinisiasi dan dikelola oleh PCNU Humbang Raya dan H. Junaedi Siregar selaku pengusaha. Tanah pesantren ini bahkan juga hibah dari Haji Junaedi Siregar.
Kiai Asep minta shalat malam 12 rakaat itu dijadikan tradisi tiap malam di pesantren Amanatul Ummah Humbang Raya. Karena shalat malam ini sangat mustajab.
Menurut Kiai Asep, shalat malam 12 rakaat dengan enam kali salam itu diambil dari Kitab Ihya Ulumiddin karangan Imam Al-Ghazali itu. Kiai Asep juga membacakan doa khusus yang juga diambil dari kitab yang sangat kesohor itu.
“Addu’a alladzi laa yuraddu, doa yang tidak akan ditolak oleh Allah SWT,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu mengutip narasi dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin.
Sedemikian mustajabnya, menurut Kiai Asep, Imam Ghazali minta agar doa ini jangan sampai diajarkan kepada sembarang orang.
“Karena meski untuk maksiat doa ini dikabulkan,” ujar Kiai Asep sembari minta agar kita berdoa untuk yang baik-baik.
Shalat malam itu kemudian diakhiri dengan shalat witir tiga rakaat dengan dua kali salam.
Tak lama kemudian masuk waktu Subuh. Salah seorang santri berdiri mengumandangkan adzan. Kiai Asep kemudian mengimami shalat jemaah Subuh.
Setelah wiridan Kiai Asep langsung menyampaikan taushiyah. Dalam taushiyahnya Kiai Asep banyak memberi motivasi kepada para jemaah terutama para pengelola pesantren. Kiai Asep sangat optimistis, pesantren ini akan besar jika dikelola secara sungguh-sungguh karena sarana dan prasarana atau infrastrukturnya sudah siap.
“Sangat jauh jika dibandingkan ketika saya merintis Amanatul Ummah di Pacet,” tutur Kiai Asep.
“Saat itu hanya ada rumah kecil dan kandang ayam,” ujar kiai miliarder tapi dermawan itu.
Kandang ayam dan rumah kecil itulah yang dijadikan asrama santri.
“Muridnya 48 orang. Sekolahnya di bawah terop. Tapi saya pasang papan Madrasah Bertaraf Internasional,” ujar Kiai Asep sembari tersenyum.
Menurut Kiai Asep, kepala desa setempat sempat mencibir. Ia bahkan minta Kiai Asep agar tak terlalu tinggi dalam bercita-cita.
“Pun kemelipen. Nyatanya kados ngeten,” ujar Kiai Asep menirukan bahasa kepala desanya. Artinya, jangan terlalu tinggi, toh kenyataannya seperti ini (kandang ayam).
Nyali Kiai Asep sempat ciut juga. “Tapi saya kemudian menemukan referensi Innallaha yuhibbu ma’aliyal umur wa yukrahu safsafaha. Allah itu suka pada orang yang tinggi urasannya, tinggi cita-citanya dan Allah tidak suka pada orang yang rendah urusannya, rendah cita-citanya,” tutur Kiai Asep.
Sejak itu Kiai Asep merasa percaya diri. Ia maju terus pantang menyerah. Ketika santrinya bertambah, Kiai Asep menyewa rumah penduduk di sekitarnya. Yang akhirnya berkembang pesat dan besar.
“Dalam jangka 9 tahun Pacet sudah menjadi kota kecil. Santri Amanatul Ummah sekarang 16 ribu,” tutur Kiai Asep
Kiai Asep juga mengingatkan agar para santri, ustadz dan para jemaah tidak tidur setelah Subuh sampai matahari terbit. Sebab, kata Kiai Asep, antara Subuh dan matahari terbit itulah Allah SWT membagi-bagi rezeki.
Usai memberikan taushiyah, Kiai Asep minta Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk memimpin doa.
Perhatian Kiai Asep terhadap Pesantren Amanatul Ummah di Humbang Raya ini. Selain aktif menggagas sistem dan kurikulum Kiai Asep juga mengirimkan seorang ustadz senior untuk mengembangkan pesantren ini.
Kiai Asep juga sangat sering mengunjungi Pondok Pesantren Amanatul Ummah Humbang Raya. Sebelumnya, pada Senin 13 Oktober 2025 Kiai Asep dan rombongan juga pernah menginap di pesantren tengah hutan itu. Bahkan sekarang Kiai Asep membangun rumah pribadi di pesantren tersebut.







