Jumat, 18 Oktober 2019 16:48

Ratusan Petani Jember Pertanyakan Mangkraknya Puluhan Alsintan Bantuan Pemerintah

Rabu, 18 September 2019 13:54 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Yudi Indrawan
Ratusan Petani Jember Pertanyakan Mangkraknya Puluhan Alsintan Bantuan Pemerintah
Petani menunjukkan salah satu alsintan yang mengkrak. Tampak alsintan itu penuh debu, sampah dedaunan maupun buah busuk.

JEMBER, BANGSAONLINE.com - Ratusan petani di Jember mempertanyakan mangkraknya puluhan alat mesin pertanian (alsintan) bantuan dan hibah dari Kementerian Pertanian yang ada di halaman kantor Dinas Pertanian dan Hortikuktura kabupaten setempat. Pasalnya, setelah sebelumnya dapat digunakan oleh para petani, namun sejak setahun yang lalu alat modern tersebut tidak bisa lagi digunakan dengan alasan belum ada rekom dari Bupati Jember dr. Faida.

Ratusan petani itu tergabung dalam kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember. Mereka menggelar rapat dengar pendapat di Aula Kantor Dinas Pertanian yang ditemui langsung Sekdin Pertanian Sujono dan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Dedi Nurahmadi, Rabu (18/9/2019) siang.

"Sejak setahun lalu, alat-alat ini mangkrak dan saya yakin sekarang pun sudah tidak bisa dioperasikan. Karena gak pernah dihidupkan, dan akinya pasti soak. Padahal ini bantuan dari tahun 2017 dan 2018 dari Kementerian," kata Ketua KTNA Jember Sucipto saat dikonfirmasi wartawan di sela rapat dengar pendapat.

Puluhan alsintan itu sebelumnya sudah direalisasikan dan sudah bisa dioperasionalkan kepada para petani. Bahkan juga sudah ada gerobak dan garasi untuk tempat alat pertanian ini. "Karena memang hanya bisa digunakan di wilayah Selatan, karena lokasi pertanian yang sesuai untuk di sana, bisa dipinjam-pakaikan. Tapi sejak setahun lalu, sama bupati ditarik lagi ke Dinas Pertanian," ungkapnya.

Semisal mau dipakai, kata pria yang juga petani ini, disuruh membuat proposal yang diajukan kepada bupati. "Karena pinjam pakai harus langsung ke bupati. Sudah kita ajukan, tetapi sampai sekarang kita tidak tahu kenapa tidak dapat izin menggunakan dari bupati. Ini membuat kita kebingungan," ungkapnya.

Padahal, dengan adanya alat pertanian yang terdiri dari Harvester, Handtractor, Combine, dan lain-lain itu, petani sangat diuntungkan. "Biaya operasional murah, apalagi saat panen itu, sangat membantu. Kemudian losis atau hilangnya itu sangat berkurang, sampai 3 persen. Ini sangat menguntungkan bagi petani," ujarnya.

"Lah alat ini mangkrak di Dinas Pertanian ini untuk apa? Mau jadi museum ta? Atau hanya untuk pameran? Padahal kondisinya sekarang kehujanan, kepanasan, rusak ini. Saya yakin akinya rusak ini, karena 1 tahun tidak dihidupkan," tukasnya.

Untuk itu, pihaknya berharap ada perhatian dari pemerintah kalau ingin pertanian Jember maju. "Lumbung pangan sejak tahun 2017 di Bulog harus dipertahankan. Kalau alatnya mangkrak begini, nilainya miliaran ini, tapi tidak bisa dimanfaatkan," tandasnya.

"Katanya harus sertifikasi kelompok (tani), tapi sampai sekarang tidak bisa digunakan alat pertanian ini," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua HKTI Jember Jumantoro menyampaikan, dengan mangkraknya alsintan ini, sangat merugikan pertanian. "Kami merasa sangat kecewa, karena bicara ketahanan pangan harus didukung teknologi. Lah ini alat-alatnya mangkrak, kan malah tidak memberikan manfaat. Padahal alat-alat ini sangat dibutuhkan petani," katanya.

"HKTI berharap ada perhatian. Jangan hanya menunggu dari bupati, mau sampai kapan? Kami berharap ada perhatian, agar petani ini diuntungkan, wis wayahe petani terlayani, bukan terbebani," tandasnya.

"Ini kurang serius pemerintah menanggapi. Makanya jangan hanya Plt petugas lillahitallah itu yang mengurusi kebijakan. Jika ada persoalan ini jadi bisa teratasi. Kalau bisa anggota DPRD pun juga harus turun untuk segera melihat, kan fresh semua. Kalau begini caranya, lebih baik saya ganti bupati," sambungnya.

Diketahui saat berita ini ditulis, rapat dengar pendapat antara ratusan petani dengan Dinas Pertanian masih berlangsung. Sekdin Pertanian Sujono masih belum bisa dikonfirmasi. (jbr1/yud/rev)

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Minggu, 13 Oktober 2019 23:15 WIB
BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur memiliki wisata unik berbasis minyak dan gas bumi (Migas), tepatnya di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.Di desa ini terdapat ratusan sumur minyak tua peninggal...
Rabu, 16 Oktober 2019 11:21 WIB
Oleh: Khariri Makmun*Fenomena semangat keberagamaan di tanah air semakin meningkat, hal itu ditandai dengan maraknya gelombang hijrah baik di kalangan artis, publik figur, maupun orang awam. Masifnya dakwah di media sosial disambut baik oleh netizen ...
Minggu, 06 Oktober 2019 22:56 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*70. Walaqad karramnaa banii aadama wahamalnaahum fii albarri waalbahri warazaqnaahum mina alththhayyibaati wafadhdhalnaahum ‘alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan.Dan sungguh, Kami telah memuliakan ...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...