Petani menunjukkan salah satu alsintan yang mengkrak. Tampak alsintan itu penuh debu, sampah dedaunan maupun buah busuk.
"Lah alat ini mangkrak di Dinas Pertanian ini untuk apa? Mau jadi museum ta? Atau hanya untuk pameran? Padahal kondisinya sekarang kehujanan, kepanasan, rusak ini. Saya yakin akinya rusak ini, karena 1 tahun tidak dihidupkan," tukasnya.
Untuk itu, pihaknya berharap ada perhatian dari pemerintah kalau ingin pertanian Jember maju. "Lumbung pangan sejak tahun 2017 di Bulog harus dipertahankan. Kalau alatnya mangkrak begini, nilainya miliaran ini, tapi tidak bisa dimanfaatkan," tandasnya.
"Katanya harus sertifikasi kelompok (tani), tapi sampai sekarang tidak bisa digunakan alat pertanian ini," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua HKTI Jember Jumantoro menyampaikan, dengan mangkraknya alsintan ini, sangat merugikan pertanian. "Kami merasa sangat kecewa, karena bicara ketahanan pangan harus didukung teknologi. Lah ini alat-alatnya mangkrak, kan malah tidak memberikan manfaat. Padahal alat-alat ini sangat dibutuhkan petani," katanya.
"HKTI berharap ada perhatian. Jangan hanya menunggu dari bupati, mau sampai kapan? Kami berharap ada perhatian, agar petani ini diuntungkan, wis wayahe petani terlayani, bukan terbebani," tandasnya.
"Ini kurang serius pemerintah menanggapi. Makanya jangan hanya Plt petugas lillahitallah itu yang mengurusi kebijakan. Jika ada persoalan ini jadi bisa teratasi. Kalau bisa anggota DPRD pun juga harus turun untuk segera melihat, kan fresh semua. Kalau begini caranya, lebih baik saya ganti bupati," sambungnya.
Diketahui saat berita ini ditulis, rapat dengar pendapat antara ratusan petani dengan Dinas Pertanian masih berlangsung. Sekdin Pertanian Sujono masih belum bisa dikonfirmasi. (jbr1/yud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




