Kamis, 26 April 2018 10:58

Pernah Kerja Kuli Bangunan, Kini Kaya Raya: KH Dr Asep Saifuddin Chalim MA, Putra Pendiri NU (2)

Rabu, 10 Januari 2018 20:26 WIB
Pernah Kerja Kuli Bangunan, Kini Kaya Raya: KH Dr Asep Saifuddin Chalim MA, Putra Pendiri NU (2)
Dr KH Asep Saifuddin Chalim saat menerima Prof Dr. Muhammad Taufiq Ramadan al-Buti (tengah), Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, di Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Foto: dok. amanatul ummah/djoko pitono

BANGSAONLINE.com - Kiai Asep Saifuddin bercerita, ayahnya, Kiai Abdul Chalim, asli Cirebon Jawa Barat. Namun ia kemudian menetap di Surabaya. ”Dari Cirebon ayah saya jalan kaki ke Surabaya,” tuturnya kepada bangsaonline.com.

Kiai Abdul Chalim tinggal di Jalan Kedungsroko Gang V, Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari Surabaya. Rumah ini kemudian jadi Sekolah SMP dan SMA Diponegoro hingga sekarang.

Di kawasan kampung ini banyak tokoh bertempat tinggal. Selain Kiai Abdul Chalim, KH Ahmad Syaichu pernah tinggal di kawasan ini sebelum tinggal di Jakarta. Tokoh NU yang yang dulu sangat popular ini bertempat tinggal di Jalan Kedung Tarukan yang masih satu kawasan dengan kampung Kedung Sroko.

”Kiai Saichu itu santri ayah saya,” tutur Kiai Asep.

Kiai Ahmad Syaichu pernah menjadi kandidat ketua umum PBNU bersaing dengan KH Idham Chalid. Namun Kiai Syaichu kalah. Ia kemudian mendirikan organisasi Ittihadul Muballighin (persatuan para muballigh). Kiai Ahmad Syaichu pernah menjadi Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia-Afrika. Peninggalan Kiai Ahmad Syaichu sampai kini masih ada yaitu Gedung Yayasan Al-Hamidiyah di Jalan Kedung Tarukan Surabaya.

Saat remaja Kiai Asep mengaku hidup miskin dan memprihantikan. ”Saya tak mewarisi harta ayah sesen pun,” katanya. Saking miskinnya ia pernah menjadi kuli bangunan untuk menyambung kebutuhan hidup.

Namun ia punya semangat belajar sangat kuat. Meski tak punya uang ia kuliah di IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya. Untuk biaya hidup dan kuliah ia mengajar di sekolah. ”Tapi saya kemudian distop tak boleh mengajar karena saya tak punya ijazah,” katanya.

Sejak distop mengajar itulah ia tak punya penghasilan. ”Ya, saya tak punya uang untuk makan. Padahal saya kan kuliah di IAIN. Maksud saya walau gak punya ijasah saya kan dari IAIN (mampu mengajar). Tapi tetap diberhentikan,” katanya. Terpaksa ia berhenti mengajar. ”Ya, itu akhirnya saya kerja kuli bangunan dua bulan. Uangnya untuk mendaftar di IKIP,” katanya.

Tapi di IKIP Kiai Asep tidak langsung diterima karena ijazahnya Madrasah Aliyah. ”Saat itu ditanya, ini ijazah apa,” katanya. Ijazah Kiai Asep ijazah persamaan. Untungnya ada seseorang yang membantu sehingga diluluskan. ”Saya kuliah di jurusan bahasa Inggris,” katanya. Sejak itu ia bisa jadi guru lagi.

”Saya kuliah tahun pertama sudah ngajar. Saat itu saya tidak melamar, tapi banyak dilamar sekolah untuk mengajar,” katanya sembari menuturkan bahwa ia sempat mengajar di sekolah di Lamongan.

Perjalanan hidupnya mulai berubah. Paling tidak, untuk kebutuhan sehari-hari sudah tercukupi sampai akhirnya ia menjadi kiai yang kaya raya.

Namun ia selalu meyakini bahwa sukses yang ia raih sekarang – terutama punya pesantren besar – karena faktor do’a dan barakah ayahnya. ”Jadi ini karena barakah dari ayah saya,” katanya berulang-ulang.

Maka ia selalu bersyukur, terutama dengan cara bersedekah secara ajeg. Tiap pagi ia berkeliling di sekitar pesantrennya membagi-bagikan uang sebesar 1 juta rupiah dalam bentuk pecahan Rp 10.000 an. Uang itu dibagikan kepada siapa saja yang ditemui, seperti satpam, tetangga, polisi dan siapa saja yang mau.

”Tiap pagi saya bawa uang Rp 1 juta berupa pecahan Rp 10.000, saya berikan kepada orang-orang di sekitar pesantren,” katanya.

Praktis Kiai Asep bersedekah Rp 30 juta tiap bulan. Belum lagi sedekah kepada para tamu yang diundang ke ndalemnya. Ia selalu memberi transport dan sarung, termasuk kepada wali santri yang sowan. ”Allah sudah berjanji, kalau kita bersyukur, Allah akan menambahi kenikmatan kita, rejeki kita,” katanya mengutip ayat al-Quran. Praktis untuk sedekah Kiai Asep mengeluarkan puluhan juta. bahkan kadang sampai ratusan juta.

Selain bagi-bagi uang Kiai Asep tiap pagi mengajak sarapan pagi sekitar 20 orang sampai 40 orang. ”Termasuk santri yang gak kerasan saya ajak makan,” ungkapnya.

Kiai Asep juga aktif mendanai kegiatan-kegiatan keagamaan asal demi perjuangan Islam. ”Terutama NU saya siap mendanai,” katanya.

Banyak sekali lembaga-lembaga keagamaan seperti Pergunu yang ia danai ketika menggelar acara di Pesantren Amanatul Ummah. ”Mulai konsumsi sampai transport peserta dan cindera mata saya yang nanggung,” katanya. Biasanya semua peserta acara itu disiapkan tas cukup bagus (bukan asal tas) yang isinya sarung atau sajadah plus amplop uang saku.MUI juga pernah menggelar acara di Pesantren Amanatul Ummah. (bersambung)

Rabu, 25 April 2018 00:28 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*PILKADA terus diselenggarakan dan saya selalu membanding di kala bertandang di banyak negara Asia, Eropa maupun Timur Tengah. Pergantian kepala daerah memang banyak mengeluarkan ongkos dan perubahan di mana-mana terus dikamp...
Senin, 19 Maret 2018 19:42 WIB
Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .      Wa-aataynaa muusaa alkitaaba waja’alnaahu hudan libanii israa-iila allaa tattakhidzuu min duunii wakiilaan (2).Dzurriyyata man hamalnaa ma’a nuuhin innahu kaana ‘abdan syakuuraa...
Sabtu, 21 April 2018 12:32 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Jumat, 20 April 2018 23:01 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Ngawi dikenal mempunyai Alas Srigati atau Alas Ketonggo yang terletak 12 Km arah selatan dari kota. Menurut masyarakat Jawa, Alas Ketonggo merupakan salah satu wilayah angker atau ‘wingit’ di tanah Jawa.Ha...