Menentang Pembubaran HMI, Kiai Yusuf Hasyim Pimpin 25 Ormas dan 3.000 Demonstran

Menentang Pembubaran HMI, Kiai Yusuf Hasyim Pimpin 25 Ormas dan 3.000 Demonstran KH Muhammad Yusuf Hasyim ketika remaja sering mengenakan seragam Laskar Hizbullah dan TNI. Foto: Dok. Keluarga/Pesantren Tebuireng

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Pada tahun 1960-an PKI semakin mendominasi kekuasaan, terutama karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno. KH Muhammad Yusuf Hasyim semakin sadar bahwa situasi negara yang berideologi Pancasila mulai terganggu. Apalagi manuver politik PKI vulgar dan kasar. Mereka berusaha membubarkan organisasi Islam. Bahkan Kiai Yusuf Hasyim mencium gelagat PKI akan menjadikan Madiun sebagai pemerintahan Soviet. Kiai Yusuf Hasyim pun menggerakkan massa. Efektifkah? Simak tulisan serial ke5 M. Mas’ud Adnan yang mengikuti seminar pengusulan sebagai pahlawan nasional di PP Amantul Ummah Surabaya.

Prof Usep Abdul Matin, MA (Leiden), MA (Duke), Ph.D, mengungkapkan bahwa yang saat itu masih sangat muda tidak hanya pemberani tapi juga cerdas dalam merespons situasi politik. Ini terlihat sekali ketika putra Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari itu menyaksikan manuver-manuver politik PKI yang membayakan Pancasila dan NKRI.

pada hari Sabtu 22 Maret 1965, memprakarsai dan memimpin 25 ormas pemuda, pelajar dan mahasiswa Islam, yang berjumlah 3.000 orang. Sebanyak 25 ormas ini digabung dalam Generasi Muda Islam,” kata Prof Usep Abdul Matin dalam seminar pengusulan sebagai pahlawan nasional di PP Amantul Ummah Surabaya, Rabu (28/5/2025) malam.

Prof Usep Abdul Matin, MA (Leiden), MA (Duke), Ph.D. Foto: MMA/bangsaonline

Generasi Muda Islam itu disingkat Gemuis yang kemudian sangat popular di kalangan aktivis muslim. Menurut data yang dihimpun Prof Usep dan timnya, para aktivis Gemuis itu bersama kemudian menghadap ke Pengurus Besar Front Nasional KOTRAR (Komando Tertinggi Retooling Aparatur Revolusi) dan Menteri Agama RI KH Saifuddin Zuhri.

“Kiai Yusuf Hasyim bersama para pendemo bergerak dari Stasiun Gambir melewati Jalan Merdeka Selatan, Merdekat Barat dan Thamrin. Mereka meneriakkan yel-yel “Hidup Bung Karno”, Ganjang Malaysia, Ganjang Pancasilais Munafik” (pengkhianat bangsa), “Ganjang Kontra Revolusi” (pelaku tragedi 65), “KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) memperkokoh persatuan NEFO (New Emerging Forces [negara-negara yang baru Merdeka, non-imperialis, dan sosialis]),” kata Prof Usep.

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO