KH Muhammad Yusuf Hasyim ketika remaja sering mengenakan seragam Laskar Hizbullah dan TNI. Foto: Dok. Keluarga/Pesantren Tebuireng
Massa demonstran berjumlah 3.000 orang yang dipimpin Kiai Muhammad Yusuf Hasyim itu kemudian membacakan pernyataan bersama di depan Pengurus Besar Front Nasional. Diantara pernyataan bersama itu bahwa mereka punya perhatian yang sama untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Berterima kasih kepada Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi/Pahlawan Islam dan kemerdekaan yang telah menetapkan Pen.Pres No. 1/1965 yang menegaskan bahwa negara Indonesia adalah negara yagn berTuhan, mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia; menjunjung tinggi semangat Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA, Bandung 6-14 Maret 1965, menentang penjajahan.
“..Dan mempertahankan organisasi mahasiswa Islam seperti HMI yang ingin dibubarkan oleh PKI,” ungkap Prof Usep mengutip pernyataan bersama para demonstran yang dimuat di Harian Pagi Duta Masyarakat edisi Selasa 16 Maret 1965/13 Zulka’dah 1384 H.
Menurut data yang diungkap Prof Usep, Imam Pratignya, Wakil Sekretaris Jenderal P.B. Front Nasional menerima KH Muhammad Yusuf Hasyim dan para delegasi dari 3.000 orang pendemo tersebut. Ia menyampaikan penghargaan yang setingi-tingginya kepada Kiai Muhammad Yusuf Hasyim dan para demonstran.
“Karena sebagai pemuda, pelajar, mahasiswa Islam telah menunjukkan militansi yang revolusioner,” ungkap Prof Usep menirukan pernyataan Imam Pratignya.
“Imam Pratignya menyatakan bahwa dia akan meneruskan pernyataan KH M Yusuf Hasyim dan para Delegasi Besar itu ke Presiden Soekarno. Ia minta Kiai Yusuf Hasyim dan para Delegasi Besar itu tetap memperkokoh persatuan dan tidak terpancing oleh provokasi yang diserukan oleh Nekolim (Neokolonisme, Imperialisme).
Aksi demo besar-besaran yang dipimpin Kiai Yusuf Hasyim itu menimbulkan resonansi atau gaung sangat besar. Bahkan didukung penuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Pada waktu yang sama, 5 Oktober 1965, PBNU memohon kepada Presiden Soekarno/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi agar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya membubarkan Partai Komunis Indonesia, Pemuda Rakyat, Gerwani, Serikat Buruh Pekerjaan Umum (SOBSI) dan semua Ormas lainnya yang ikut mendalangi dan/atau bekerja sama dengan apa yang menamakan diri “Gerakan 30 September,” ujar Prof Usep mengutip Majalah Berita Nahdlatul Ulama, nomor 6 Tahun 1983.
Menurut Prof Usep, saat itu Kiai Muhammad Yusuf Hasyim berusia 34 tahun dan menjabat Ketua I Pucuk Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor. “Jabatannya ini berlangsung dari 1963 sampai 1967 atau di usianya yang ke-34 sampai ke-38,” tutur Prof Usep detail. (M.Mas’ud Adnan/bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




