Pemkab terus memacu untuk meningkatan populasi sapi di Banyuwangi.
Menurut Benny, sapi yang menjadi target program ini sebelumnya sudah diperiksa dan dipastikan tidak mengalami gangguan reproduksi, sehingga bisa berhasil dalam program inseminasi.
“Hasilnya, dalam sembilan bulan ke depan setelah sinkronisasi birahi, akan lahir ribuan pedhet (anak sapi) unggulan secara bersamaan di seluruh kecamatan. Kami prediksi, kelahiran pedhet-pedhet ini akan terjadi pada April 2017,” terangnya.
Di samping menjadi penyedia daging, anak sapi yang lahir juga disiapkan sebagai sapi indukan yang berkualitas unggul. Salah satu ciri sapi unggulan adalah saat lahir bobotnya minimal 25 kg dan tidak ada cacat fisik.
“Program ini, kualitas sapinya bisa dipastikan bagus, bahkan dewasa nanti bobotnya bisa capai satu ton. Sehingga daging yang dihasilkan juga banyak,” imbuh Benny.
Saat ini jumlah sapi yang ada di Banyuwangi sekitar 120 ribu ekor, dengan rincian 72 ribu sapi betina dan 48 ribu sapi jantan. Untuk melindungi sapi betina yang produktif, pemerintah memberikan kompensasi Rp500.000 per sapi betina yang bunting kepada peternak agar tidak disembelih.
Benny mengakui, cukup terbantu dengan kehadiran Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Kampus Banyuwangi. Banyak mahasiswa Unair yang terlibat membantu berbagai permasalahan sektor peternakan di Banyuwangi.(bw1/dur)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




