Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jatim.
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Besaran uang saku penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tengah menjadi perbincangan publik setelah nama Dwi Sasetyaningtyas ramai diperbincangkan di media sosial. Perhatian masyarakat kini tak hanya tertuju pada polemik yang viral, tetapi juga pada satu hal yang memicu rasa penasaran: berapa sebenarnya dana yang diterima mahasiswa LPDP selama menempuh studi di luar negeri?
Pertanyaan tersebut wajar mengingat program beasiswa yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memang dikenal sebagai skema pendanaan penuh (fully funded). Artinya, negara tidak hanya membayar biaya kuliah penerima, tetapi juga menanggung berbagai kebutuhan hidup dan akademik selama masa studi.
BACA JUGA:
- 200 Siswa Surabaya Diduga Keracunan MBG, Ning Lia: Harus Ada Penyesuaian Porsi Sesuai Kemampuan SPPG
- Soroti Polemik Pemecatan Guru Yogi Susilo, Ning Lia Desak Investigasi Transparan Demi Keadilan
- DPD RI Lia Istifhama X KPID Jatim: RUU Penyiaran Harus Segera Disahkan
- Viral Banner Dicium ODGJ, Senator Cantik Ning Lia Istifhama Cerita ke Pak Purnomo, Sang Polisi Baik
Di luar komponen dana Beasiswa LPDP, yang mencakup dana pendidikan yang bersifat at cost atau sesuai keseluruhan biaya perkuliahan oleh kampus tujuan, juga terdapat berbagai tunjangan. Di antaranya, tunjangan buku, bantuan penelitian yang bisa mencapai 100 juta, bantuan seminar, publikasi, tunjangan keluarga, dana aplikasi, asuransi kesehatan, dana kedatangan, dana keadaan darurat, hingga dana hidup bulanan.
Mengutip laman resmi LPDP, dana hidup bulanan penerima awardee tertinggi adalah penerima beasiswa yang menempuh studi di Swiss, yaitu sebesar CHF 2,400 atau setara Rp50,4 juta per bulan.
Tak ayal, jumlah yang besar dalam memfasilitasi penerima beasiswa tersebut, menjadi sorotan publik.
Politikus perempuan yang juga anggota DPD RI Dr. Lia Istifhama, turut berkomentar.
“Anggaran yang besar untuk pendidikan, tentu hal yang kita harus dukung bersama. Namun sangat wajar jika menyoroti peruntukan,” jelasnya, Jumat (27/2/2026).
“Dalam hal ini, kita harus mengangkat preferensi generasi muda untuk menimba ilmu di kampus dalam negeri. Sekalipun, menempuh studi di luar negeri atau abroad memang ada positifnya, yaitu membentuk pribadi mandiri dan survive di negeri orang,” tambahnya.
Ia menegaskan, dana yang besar untuk studi di luar negeri jangan sampai mengubah mindset generasi muda.
“Jangan sampai, nilai yang besar menjadi tujuan utama mereka untuk mengincar beasiswa ini. Karena kita sama-sama memiliki tanggung jawab membentuk mental anak bangsa yang adaptif, yaitu bertahan dalam setiap dinamika yang mereka hadapi.”
“Sebaliknya, jangan sampai ada sebuah perilaku yang mengistimewakan atau privilege tanpa pengawasan yang kuat sehingga membentuk mental tinggi hati atau merasa superior. Sebagai contoh, melihat rumput tetangga lebih hijau atau menganggap negara sendiri tidak secantik negeri orang, hanya karena kenyamanan yang sedang didapatkan,” imbuhnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




