Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, saat serap aspirasi di Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Minggu (19/4/2026).
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Proses panjang penuh perjuangan menjadi pengingat kuat bagi seorang wakil daerah untuk tidak mengkhianati amanah masyarakat. Dari titik nol hingga dipercaya duduk di kursi parlemen, komitmen untuk tetap berpihak pada rakyat menjadi prinsip yang terus dijaga.
Itulah yang membuat Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama tetap komitmen untuk menjaga amanah masyarakat dengan terus turun langsung menyerap aspirasi. Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu mengaku tidak ingin mengkhianati kepercayaan publik, mengingat proses panjang dan penuh perjuangan yang telah dilaluinya hingga berada di posisi saat ini.
BACA JUGA:
- Lia Istifhama Apresiasi Kolaborasi Lintas Kementerian dalam Pengawasan dan Pelayanan Haji 2026
- Padatnya Jalur Mina, Ning Lia DPD RI Bagikan Tips Aman Jika Terpisah dari Rombongan Haji
- Jelang Armuzna, Lia Istifhama Apresiasi Kekompakan dan Fasilitas Kemenhaj
- Kunjungi Jemaah Haji Sumenep di Makkah, Ning Lia Ingatkan Kesiapan Fisik Jelang Armuzna
“Perjuangan menuju titik ini tidak mudah. Karena itu, amanah masyarakat harus dijaga dengan sungguh-sungguh, bukan hanya janji,” ujarnya saat kegiatan serap aspirasi di Masjid Besar Arraudlah, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Minggu (19/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia juga membagikan kisah perjuangan hidupnya yang penuh perjuangan. Ia mengaku pernah berada di titik nol secara finansial, namun tetap berusaha membantu orang lain.
“Saya pernah di posisi tidak punya uang sama sekali, nol rupiah. Tapi dalam kondisi itu, saya tetap berusaha memberi kepada orang lain semampu saya,” ungkapnya.
Perempuan yang juga Keponakan Gubernur Jatim Khofifah itu menceritakan bagaimana sejak muda sudah terbiasa bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan.
“Saya pernah menjual kertas berkas verval untuk menambal kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat kuliah, saya menjalani tiga kampus sekaligus, sambil tetap bekerja mengajar kursus privat,” tuturnya.
Menurutnya, pengalaman hidup tersebut menjadi pengingat agar tidak lalai terhadap amanah yang kini diemban.
“Kalau kita ingat proses jatuh bangunnya, kita tidak akan mudah tergoda untuk mengkhianati kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Ning Lia menegaskan pentingnya pola jemput bola untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat, terutama di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
“Kami hadir untuk memastikan suara masyarakat benar-benar sampai ke pusat dan diperjuangkan dalam kebijakan,” imbuhnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap optimistis dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, seraya mengingatkan bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




