Dinilai Jadi BUMD Paling Solid, Lia Istifhama Dukung Bank Jatim Raih Posisi Nomor 1 di Indonesia

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) dinilai sebagai salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) paling solid di Indonesia saat ini. Kinerja impresif serta transformasi manajemen yang berjalan masif di tubuh Bank Jatim mendapat apresiasi langsung dari Anggota DPD RI Dapil Jatim, Dr. Lia Istifhama.

Apresiasi tersebut didasarkan pada keberhasilan Bank Jatim dalam mencatatkan laba tertinggi di industri BPD, sekaligus komitmen kuatnya untuk menjadi motor penggerak intersep ekonomi daerah.

Menurut senator yang akrab disapa Ning Lia ini, soliditas yang ditunjukkan Bank Jatim mencerminkan tata kelola yang matang, kepemimpinan yang visioner, serta keberpihakan nyata kepada sektor produktif.

“Bank Jatim hari ini menunjukkan bahwa BUMD bisa naik kelas, tidak hanya kuat secara angka, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat. Ini yang saya sebut sebagai BUMD paling solid, karena mampu menjaga keseimbangan antara profit, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi daerah,” ujar Ning Lia.

Lebih lanjut, ia juga memuji langkah transformasi digital dan penguatan kelompok usaha bank (KUB) yang diambil manajemen sebagai strategi progresif untuk memperluas jangkauan layanan dan memperkuat daya saing nasional.

“Dengan roadmap yang jelas dan kolaborasi antar-BPD melalui KUB, saya optimistis Bank Jatim tidak hanya menjadi yang terbaik di daerah, tetapi juga mampu bersaing dan menjadi nomor satu di tingkat nasional,” tegas Ning Lia.

Merespons dukungan tersebut, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, menjelaskan dalam rapat kerja tahunan bahwa ultimate objective (tujuan utama) perseroan tidak sekadar mengejar keuntungan semata. Bank Jatim berkomitmen mendorong inklusi, literasi keuangan, dan membuka akses pembiayaan selebar-lebarnya demi menyejahterakan masyarakat.

Guna memberikan jangkauan layanan yang lebih luas, Bank Jatim mengandalkan jaringan distribusi 244 kantor cabang, termasuk kantor cabang di Jakarta, serta peningkatan kapasitas teknologi mobile banking.

Melalui kemudahan akses ini, Bank Jatim berkomitmen menggenjot penyaluran kredit. Manajemen mengakui porsi kredit saat ini masih didominasi sektor konsumtif sebesar 55 persen. Namun, upaya agresif menggeser porsi ke arah kredit produktif terus berjalan secara masif demi menopang geliat sektor UMKM.

Untuk mempertahankan status sebagai BPD sehat dan terbaik, Bank Jatim fokus pada tiga pilar utama. Yakni memperkuat struktur permodalan yang sehat, melakukan transformasi digitalisasi perbankan yang masif, dan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas karyawan yang tangguh di era digital.

Bank Jatim kini tidak lagi bekerja secara instan. Manajemen menegaskan telah merancang peta jalan (roadmap) bisnis jangka panjang untuk tahun 2027 hingga 2028, yang diharapkan mampu menjadi benchmark atau percontohan bagi jajaran BUMN.

Rencana besar tersebut dirangkum ke dalam lima pilar utama, meliputi penguatan tata kelola (corporate governance), optimalisasi ekosistem bisnis, transformasi teknologi informasi, penguatan human capital, serta optimalisasi KUB. Langkah KUB ini krusial seiring kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong pemenuhan modal inti minimum Rp3 triliun bagi BPD.

"Kami membuka peluang sinergi KUB dengan lima BPD lainnya di Indonesia, seperti BPD NTT dan NTB. Sinergi ini akan membuat fondasi perbankan daerah makin kuat. Jika ada pengusaha di daerah mereka yang butuh fasilitas pembiayaan besar, Bank Jatim siap meng-cover," kata Winardi.

Ketahanan solid industri BPD dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global turut diamini oleh Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah, Syariah, dan Daerah OJK, Defri Andri.

Kekuatan itu tercermin nyata dari tingkat permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) industri BPD yang kokoh di level 26,19 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata CAR industri perbankan nasional sebesar 25,09 persen. OJK menilai skema KUB yang diadopsi Bank Jatim menjadi solusi jitu untuk menjaga stabilitas sistem perbankan daerah.

"Sinergi bisnis yang dibangun di dalam KUB diharapkan tidak hanya terbatas pada aktivitas perbankan ritel semata. Namun, harus mampu mendorong akselerasi dan sinergi ekonomi riil antar-daerah," pungkas Defri Andri.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: