Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Isifhama, saat mengunjungi SPPG. Foto: Ist.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Insiden dugaan keracunan massal akibat program makan bergizi gratis (MBG) kembali mengguncang publik. Kali ini, sebanyak 200 siswa dari 12 sekolah di Kota Surabaya dilaporkan mengalami gejala medis serius usai mengonsumsi menu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Bubutan, pada Senin (11/5/2026).
Para pelajar tersebut mengeluhkan mual, muntah, hingga pusing, yang memaksa mereka mendapatkan perawatan di Puskesmas Tembok Dukuh. Beberapa siswa bahkan harus dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Merespons kejadian ini, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur segera mengambil langkah cepat dengan menutup sementara operasional SPPG Tembok Dukuh sembari menunggu hasil uji laboratorium.
BACA JUGA:
Anggota DPD RI Komite III, Lia Istifhama, memberikan tanggapannya terkait insiden ini. Senator asal Jawa Timur tersebut mengapresiasi ketegasan BGN, meski ia juga memberikan catatan kritis.
“Kita sama-sama mendapatkan informasi bahwa sampel makanan sedang diuji laboratorium. Namun tentunya sambil menunggu hasil pun, langkah tegas memang harus dilakukan. Dan yang dilakukan BGN dengan menutup SPPG itu secara sementara, sangat tepat,” ujar Lia saat ditemui di kediamannya pada Selasa (12/5/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa penutupan SPPG hanyalah langkah kuratif. Mengingat kejadian serupa telah berulang di berbagai daerah, Lia mendesak adanya penguatan pada sisi preventif (pencegahan).
“Dugaan keracunan akibat sajian menu MBG ini kan bukan peristiwa pertama. Tapi ini sudah kesekian kali dan terjadi di tempat lainnya, bukan hanya Surabaya. Maka yang harus dipahami bersama adalah upaya preventif. Jika penutupan SPPG yang bermasalah, itu kan langkah kuratif,” tegasnya.
Soroti Kendala Teknis "Porsi Jumbo"
Politikus yang akrab disapa Ning Lia ini menyoroti aspek teknis pengolahan makanan dalam skala besar yang menjadi tantangan utama bagi pengelola SPPG. Menurutnya, memasak untuk ribuan orang memerlukan keahlian khusus dan standar higienitas yang ekstra ketat.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




