Kiai Yusuf Hasyim Tertembak, Bajunya Penuh Darah, Aguk Irawan: Patriot Sejati dan Sangat Moderat

Kiai Yusuf Hasyim Tertembak, Bajunya Penuh Darah, Aguk Irawan: Patriot Sejati dan Sangat Moderat Dr KH Aguk Irawan, M. Mas'ud Adnan dan Dr Letkol Saparuddin Barus dalam Seminar Nasional pengusulan KH M Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional di ruang Marwah Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Ahad (16/3/2025). Foto: bangsaonline

“Gabung di Laskar Hizbullah. Pada 1945 resmi dan ketika Resolusi Jihad beliau memanggul senjata dan perang mempertaruhkan nyawa. Saya sampai merinding. Umur segitu. Beliau lahir 1929 tapi tahun 1945 sudah ikut berperang seperti pemuda. Kalau saya mungkin ciut. Tapi beliau masyaallah,” kata Gus Aguk.

Bahkan ketika proklamasi kemerdekaan 1945 Kiai Yusuf Hasyim juga ikut menyuarakan agar Bung Karno segera memprolamirkan kemerdekaan RI.

“Semua arsipnya ada lengkap,” kata Gus Aguk.

“Pada tahun 1947 pada agresi militer pertama beliau juga ikut berjuang,” tambah Gus Aguk.

Bahkan Kiai Yusuf Hasyim saat itu sempat terkena tembakan di bahunya. “Kalau kita baca kisahnya itu bajunya penuh darah,” kata Gus Aguk. “Sebagai anak muda seorang Gus dari kiai besar turun mempertaruhkan nyawa,” tambah Gus Aguk.

Pada 1948, kata Gus Aguk, Kiai Yusuf Hasyim berperang dengan PKI.

“Pada tahun 1949 berperang lagi dalam agresi militer kedua. Jadi terus-terusan. Ini ada kesaksian dari Kiai Rohmat sebagai ketua Pondok Gontor (Ponorogo). Saya mau menyimpulkan, seandainya tidak ada Pak Ud atau Kiai Yusuf Hasyim mungkin hari ini Gontor tidak ada karena Kiai Sahal dan Kiai Zarkasi ditawan oleh PKI dan Mayor Hambali juga ditawan oleh PKI. Yang menyelamatkan adalah Kiai Yusuf Hasyim dengan Batalyon 39 Condoromowo. Beliau sebagai komandan kompi II. Arsipnya ada, saksi sejarahnya ada, tak bisa dibantah,” kata Gus Aguk.

Menurut Gus Aguk, ketika PKI melakukan kudeta, Kiai Yusuf Hasyim sudah tak lagi bertugas di dinas kemiliteran, tapi oleh Jenderal A Yani masih diberi tugas untuk konsolidasi mengganyang PKI.

“Ketika PKI bubar beliau bersedia menggantikan menjadi anggota DPRGR karena ingin menyuarakan Islam, ingin menyarakan kitab kuning dan beliau adalah tokoh yang mengomandani untuk mengubah undang-undang perkawinan yang telah diselewengkan oleh PKI. Ini adalah jasa yang luar biasa,” katanya.

Pada 1960, tutur Gus Aguk, Kiai Yusuf Hasyim oleh Presiden Soekarno ditetapkan sebagai anggota DPRGR mewakili Ansor karena beliau Komandan Banser pertama.

“Waktu itu sejumlah anggota Masyumi mengundurkan diri karena berseberangan dengan Nasakom,” katanya.

Namun selama menjadi anggota DPRGR Kiai Yusuf Hasyim sangat kritis. Bahkan satu tahun kemudian Kiai Yusuf Hasyim mengundurkan diri karena alasan ideologi.

“Ini patriotisme luar biasa, mau meletakkan jabatan demi membela ideologi nasionalisme dan keislaman,” katanya.

Gus Aguk tampil satu sesi dengan Dr Letkol (AU) Saparuddin Barus, Kepala Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI Jakarta. Dalam sesi yang diori M. Mas’ud Adnan, M,Si, itu Saparuddin Barus membahas tentang syarat-syarat calon pahlawan nasional.

Menurut Saparuddin Barus, dari segi materi dan akademik, Kiai Yusuf Hasyim sudah memenuhi syarat.  

Bahkan Kiai Yusuf Hasyim sudah tidak abu-abu lagi.

“Putih semua,” kata Saparuddin Barus yang juga anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Baru adalah doktor sejarah pertama di lingkungan TNl.

Seminar nasional itu berjalan sangat khidmat. Terutama ketika acara doa memimpin doa yang dipimpin oleh Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk asal Mesir. (mma)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO