Khoirul Huda saat menjelaskan kondisi saluran air di wilayah Desa Suci, Dahanrejo, dan Tebalo. Foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE
"Mungkin karena kurangnya pengawasan dari pihak terkait, banyak bangunan didirikan memakan sempadan saluran air. Akibatnya, kondisi saluran makin menyempit dan dangkal, bahkan buntu akibat tak terawat dengan baik. Kondisi ini mengakibatkan daerah sekitar tergenang dan banjir saat hujan dengan intensitas lebat, karena saluran tak dapat menampung debit air," ungkap politikus asal Desa Suci, Kecamatan Manyar ini.
Untuk mencegah agar banjir susulan tak terulang, Huda meminta DCKPKP untuk membongkar total saluran air guna pembersihan.
"Karena tahun ini (2025) tak dianggarkan, maka tahun depan (2026) baru dianggarkan untuk pembuatan saluran air baru. DCKPKP juga berencana akan memanfaatkan tanah milik perusahaan jalan kereta api (PJKA) akan dibuatkan box culvert untuk mengurai buangan air saat hujan agar tak banjir. Anggaran direncanakan dari dana alokasi khusus (DAK)," terangnya.
Selain menyorot penyempitan saluran air mulai Suci hingga Tebalo, Huda juga menyorot penyempitan jalan di wilayah tersebut.
"Dulu saat saya kecil, seingat saya jalan itu lebarnya 18 meter, kemudian ada kali lebar di kanan kiri jalan. Saya kerap main di kali itu. Tapi sekarang makin sempit. Makanya kami hadirkan kades sekitar untuk melihat kretek desa batas-batas tanah di sana sebelum dilakukan perbaikan saluran dan jalan," pungkasnya. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




