Munas JRA: Said Aqil: Ruqyah Itu Cultural Capital, Kiai Asep: Organisasi Orang yang Doanya Mustajab

Munas JRA: Said Aqil: Ruqyah Itu Cultural Capital, Kiai Asep: Organisasi Orang yang Doanya Mustajab Prof Dr KH Said Aqil Siraj dan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dalam acara Munas perdana Jamiyyah Ruqyah Aswaja (JRA) di Masjid Institut Pesantren KH Abdul Chalim, Pacet Mojokerto, Jumat (23/9/2022). Foto: MMA/bangsaonline.com

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com () menggelar Musyawarah Nasional (Munas) perdana di Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur. Munas itu digelar selama tiga hari, mulai Jumat (23/9/2022) hingga Ahad (25/9/2022).

Munas yang dihadiri para   itu dibuka Prof Dr KH Said Aqil Siraj, mantan ketua umum PBNU dan ditutup Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) yang juga pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokekrto.

Hadir dalam acara itu Habib Haidar Alwi, tokoh anti , Nyai Hj Mahfudhoh Ali Ubaid, putri pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah, dan Wakil Bupati Mojokerto Dr KH Muhammad Al-Barra (Gus Bara).

Kiai Asep mengatakan bahwa Malaikat Jibril pernah meruqyah Nabi Muhammad: untuk menjaga agar Nabi terhindar dari penyakit yang datang, dari jahatnya orang hasut, orang nyantet dan sebagainya.

Bahkan Kiai Asep juga minta agar pondok pesantren Amanatul Ummah diruqyah.

“Karena dulu terkenal angker. Saking angkernya sampai ada orang mengatakan, siapa saja yang menginjak tanah ini, tak sampai tiga bulan sudah meninggal,” kata Kiai Asep yang putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU.

(Gus Abdul Wahab (pakai blankon). Foto: MMA/bangsaonline.com)

Menurut Kiai Asep, pelaksanaan ruqyah itu sama. “Jadi, kalau bacaannya sama. Tapi istijabahnya yang sulit. Karena itu Jamiyyah ruqyah ini jangan diartikan jamiyyah suwuk, tapi jamiyyahnya orang-orang yang doanya mustajab. Ini nilainya penting sekali. Esensinya ini,” kata Kiai Asep.

Kiai Asep menyadari bahwa pada umumnya orang beranggapan bahwa jamiyyah ini adalah jamiyyah orang ahli suwuk. "Ya pemahaman kasar orang-orang menganggap ini organisasi ahli suwuk," katanya sembari tertawa.

Padahal esensinya adalah kemustajaban doanya. Karena itu, tegas Kiai Asep,  ruqyah itu harus tirakat. Kiai Asep memberi contoh orang yang membaca hizib nashar. 

“Harus puasa. Puasanya 7 hari. Mulai Selasa sampai Senin,” katanya.

Hizibul ijabah juga sama. “Tapi kalau hizbul khofi lain. Puasanya mulai Senin sampai Kamis. Tapi Kamisnya harus puasa pati geni. Mulai Subuh tak boleh tidur sampai maghrib. Pas maghrib buka sedikit air, setengah gelas air dua biji kurma. Lalu puasa lagi sampai terbit matahari. Ya harus begitu. Untuk memperoleh doa yang mustajab,” kata Kiai Asep.

Pendapat senada disampaikan Kiai Said Aqil. Menurut dia, ruqyah memang ada tirakatnya. “Kalau ormas lain kan malas tirakat,” kata Kiai Said Aqil disambut tawa peserta Munas .

Kiai Said Aqil mengatakan bahwa ruqyah dalam sejarah disebut sebagai salah satu ilmul hikmah. “Ruqyah merupakan khazanah khadlariah lil muslimin, cultural capital bagi kita umat Islam, bagi kita umat nahdliyin. Maka ruqyah harus ada hingga hari qiyamat. Kewajiban kita harus menjaga, harus melestarikan hingga hari qiamat,” tegas Kiai Said Aqil saat menjadi nara sumber dalam acara tersebut.

Kiai Said Aqil mengungkap awal mula ruqyah. Suatu ketika, tutur Said Aqil, Siti Aisyah, putri Sahabat Abu Bakar, diruqyah oleh orang Yahudi. Saat itulah ayahandanya, Sahabat Abu Bakar, menyaksikan. Ia bertanya kepada Yahudi itu.

“Wahai orang Yahudi apakah kamu meruqyah dengan kitabullah, Taurat maksudnya,” tanya Abu Bakar.

Si Yahudi menjawab, “Ya”

Simak berita selengkapnya ...

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':