Pernah Ditempati Rapat dengan Bung Karno, Inilah Rumah Tinggal Hadratussyaikh di Pondok Kapurejo

Pernah Ditempati Rapat dengan Bung Karno, Inilah Rumah Tinggal Hadratussyaikh di Pondok Kapurejo KH. Mochamad Chamdani Bik, putra pertama Mbah Mochamad Sodik, Pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, saat berada di depan Kamar Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari. foto: Muji Harjita/ BANGSAONLINE.com.

(Hadratussyaikh KH. M. . foto: tebuireng online) 

Diceritakan oleh Gus Ibik, KH Muhammad Yasir pula yang mengajak KH Hasyim Asy’ari untuk mengobati penyakit yang diderita Mbah Nyai Masruroh; putri bungsu KH Hasan Muchyi, pendiri Pondok Pesantren Kapurejo yang waktu itu sedang sakit keras.

Setelah Mbah Hasyim Asy'ari berhasil menyembuhkan Mbah Nyai Masruroh dari sakitnya, sekitar tahun 1930-an, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan Masruroh dinikahkan. Dari peristiwa tersebut, perjalanan dakwah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Kediri dimulai.

Menurut cerita tutur dari keluarga, lanjut Guse Ibik, setelah menikah dengan Mbah Nyai Masruroh, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari tinggal di rumah itu selama dua tahun. Meski menetap di Pondok Kapurejo, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari masih sering bolak-balik Kediri-Jombang mengendarai delman.

Dalam kurun waktu dua tahun, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ikut andil dalam berbagai sektor yang ada di Pondok Kapu. Utamanya, pada bidang pendidikan. Jika sebelumnya KH Hasan Muchyi sekadar mengajari warga untuk mengaji, maka ketika Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di sana, mulai dirumuskan sistem pendidikan dan pembangunan madrasah yang masih berjalan hingga saat ini.

(Para santri Pondok Kapurejo Kediri mengaji di Rumah Tinggal Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari yang penuh sejarah itu. foto: muji harjita/ bangsaonline.com)

Kepada BANGSAONLINE.com, Gus Ibik mengungkapkan, setelah semua sistem berjalan, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari memutuskan untuk memboyong Mbah Nyai Masruroh ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Namun, beberapa tahun berselang, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari kembali lagi ke Pondok Kapurejo, karena Pondok Tebuireng dibakar habis oleh tentara Jepang.

“KH Hasyim Asy’ari, Mbah Nyai Masruroh, dan beberapa santri Tebuireng tinggal di Kapu untuk mengamankan diri. Ada kemungkinan, rumah tersebut digunakan untuk menyusun strategi melawan penjajah,” imbuh Gus Ibik.

Dikatakan oleh Gus Ibik, di Ndalem Mbah Hasyim Asy'ari itu ada satu kamar tidur yang waktu itu digunakan Gus Yakub, putra keempat Mbah Hasyim Asy'ari dan Mbah Nyai Masruroh. Hingga sekarang tidak semua orang bisa masuk ke kamar tersebut.

"Pada suatu ketika ada santri yang masuk ke kamar Gus Yakub itu, tiba-tiba langsung pingsan. Ada lagi seorang santri yang tidur di kamar itu, tiba-tiba ketika terbangun sudah berada di luar kamar. Jadi sampai sekarang, tidak semua orang bisa masuk ke kamar tersebut," pungkas Gus Ibik, seraya menjelaskan bahwa jumlah santri di pondoknya kini berjumlah 400 santri dan santriwati. (uji).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO