Rabu, 15 Juli 2020 00:19

​Anti Korupsi atau Antri Korupsi? Refleksi 22 Tahun Reformasi

Rabu, 20 Mei 2020 12:44 WIB
Editor: MMA
​Anti Korupsi atau Antri Korupsi? Refleksi 22 Tahun Reformasi
Penulis di Gedung KPK. foto: ist.

Oleh: Firman Syah Ali

PELAKU SEJARAH.

Hari ini 22 tahun yang lalu, bangsa kita sedang berada di puncak gerakan reformasi. Keesokan harinya Presiden Suharto mengumumkan berhenti dari jabatan Presiden RI. Sebagai pelaku sejarah gerakan anti Orde Baru sejak tahun 1990 hingga 1998, saya teringat kembali masa-masa nan telah silam, masa remaja jaya, masa muda penuh idealisme, masa heroik, masa patriotik, penuh semangat dan sedikitpun tidak takut mati.

Guru aksi saya pada tahun 1995-1996 adalah Agung Purwanto (sekarang Dosen Unej), M Nur Purnamasidi (sekarang anggota DPR RI Fraksi Golkar) dan Taufik Al Amin (sekarang Dosen IAIN Kediri). Setelah mereka bertiga meninggalkan kampus tibalah masanya generasi saya memimpin gerakan mahasiswa.

Saya bersama Zainul Munasichin (sekarang Wasekjen DPP PKB), Sudarisman (sekarang pengusaha di Kota Jember), Budi Khordiat (sekarang putus komunikasi), Popon (sekarang putus komunikasi) dan Dwi Rubiyanti Kholifah (sekarang Direktur Asian Muslim Action Network) bahu membahu memimpin aksi. Kesatuan aksi kami bernama Gerakan Mahasiswa Pecinta Rakyat yang disingkat GEMPAR.

Kami merintis aksi dari fakultas ke fakultas dengan jumlah peserta aksi yang sangat sedikit, karena mayoritas mahasiswa hanya menonton dan jarang ada yang mau ikut rombongan kami. Akhir 1996 jumlah rombongan semakin meningkat, awal 1997 kami sudah mulai berani memaksa mahasiswa untuk keluar dari ruangan kuliah dan mengikuti barisan kami.

Orasi saya waktu itu "perkuliahan yang kalian tempuh saat ini hanyalah kursus, kalau ingin tau perkuliahan yang nyata keluarlah dari kelas, ikuti kelas alam terbuka ini, kita turunkan Soeharto dan kroni-kroninya".

Pimpinan universitas dan para dosen mulai main ancam. Pembantu Rektor III menelepon kantor Kementerian Agama Pamekasan, tempat bapak saya bekerja. Mereka mengancam akan mengeluarkan saya dari kampus. Dosen-dosen mulai menyebut saya sebagai teroris dan ekstrimis. Namun jumlah massa aksi GEMPAR justeru terus meningkat.

Akhir 1997, main petak umpet dengan intelijen menjadi sarapan sehari-hari. Pernah sepeda motor saya tahu-tahu nabrak tangga perpustakaan kampus karena rem tidak berfungsi. Ternyata ada yang merusak rem sepeda motor saya selama saya berorasi di atas panggung. Andai usai memimpin aksi saya tidak ke perpustakaan, bisa dibayangkan bahwa yang saya tabrak bukan tangga perpustakaan namun bis kota.

Pada hari ini, 22 tahun yang lalu, suasana mengharu biru karena semua lawan telah menjadi kawan. Rektor mewajibkan seluruh civitas akademika mengikuti aksi raksasa yang saya pimpin. Bahkan diabsen secara resmi. Pimpinan-pimpinan Ormas memerintahkan anggotanya mengikuti aksi raksasa itu. Pengasuh-pengasuh pesantrenpun demikian, santri-santrinya dianjurkan ikut aksi.

Hari ini 22 tahun yang lalu, kotaku dan kota-kota lainnya di Indonesia menjadi lautan massa mahasiswa dan pemuda. Hari ini 22 tahun yang lalu, politik bergerak cepat sekali, detik demi detik info dari istana terkirim serentak ke telinga mahasiswa.

ERA REFORMASI

Tuntutan Mahasiswa saat itu adalah :

1. Turunkan dan Adili Soeharto beserta kroni-kroninya;

2. Amendemen UUD 1945;

3. Hapuskan Dwi Fungsi ABRI;

4. Otonomi daerah yang seluas-luasnya;

5. Supremasi hukum dan Supremasi Sipil;

6. Ciptakan pemerintahan yang bersih dari Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN).

Keesokan harinya, tanggal 21 Mei 1998, Presiden Suharto mundur dan era reformasi dimulai. Agenda-agenda gerakan reformasipun mulai dijalankan satu per satu, diawali dengan ABRI, bukan hanya Dwifungsi ABRI yang dihentikan, bahkan organisasi ABRI-pun dibubarkan, dipecah menjadi TNI dan POLRI. Saya jadi teringat skripsi saya harus mundur lama sekali karena judulnya membuat dosen penguji ketakutan. Judul skripsi saya waktu itu adalah Reposisi dan Reorganisasi ABRI dalam perspektif yuridis. Judul diajukan sebelum ABRI bubar namun diuji setelah ABRI bubar.

Agenda berikutnya adalah penerapan Otonomi Daerah seluas-luasnya melalui UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, disusul dengan amandemen UUD 1945 terutama pasal 7, di mana periode kekuasaan Presiden diubah dari tak terbatas menjadi terbatas. Amandemen pertama terhadap UUD 1945 tersebut dilakukan dalam Sidang Umum MPR RI bulan Oktober 1999.

KKN SEMAKIN PARAH

Alhamdulillah sebagian agenda gerakan reformasi telah terlaksana, walaupun kita harus kecewa karena sebagian yang lain tidak pernah terlaksana. Bahkan bukan hanya tidak terlaksana, namun justeru semakin parah.

Agenda yang belum terlaksana tersebut antara lain pengadilan terhadap kroni-kroni Soeharto, supremasi hukum dan tata kelola pemerintahan yang bersih dari KKN.

Kroni-kroni Soeharto bergerak cepat menyusup ke dalam elemen-elemen pro reformasi sehingga mereka lolos dari proses hokum. Mereka berganti baju menjadi elit politik era reformasi, bahkan menjadi bagian dari parpol-parpol produk reformasi. Supremasi hukum masih menjadi mimpi indah di bumi NKRI hingga saat ini dan KKN justeru semakin berjaya dan menggurita di era reformasi.

Satu per satu pejuang reformasi 98 menjadi elit politik baru, pengganti para elit politik Orde Baru. Ada yang menjadi anggota parlemen, menteri, kepala daerah dan lain-lain. Namun publik melihat bahwa hanya pos jabatannya yang ganti kepala, namun kelakuan jauh lebih parah daripada para pejabat Orde Baru, baik yang tidak tersentuh hukum maupun yang sudah terciduk oleh hukum.

Sampai di sini publik bertanya-tanya, lha kalian dulu itu (tahun 1998) anti korupsi apa antri korupsi?

GARDA REFORMASI?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut di atas tentu saja beraneka ragam. Ada elit politik yang menjawab, "Kami dulu betul-betul anti korupsi, namun setelah menduduki jabatan publik kok ternyata korupsi itu enak". Ada juga elit politik yang menjawab, "Kami sejak dulu sebetulnya memang antri korupsi dengan cara pura-pura anti korupsi", dan ada juga yang menjawab, "Kalian jangan ngawur, saya tetap lurus dan jujur sebagaimana idealisme saya tahun 1998 lalu".

Sebetulnya semua ini terjadi karena begitu Soeharto mundur dari jabatan Presiden RI, para pejuang reformasi langsung bubar barisan, tidak membentuk sebuah garda pengawal agenda reformasi. Andai kita belajar dari Republik Islam Iran, begitu Revolusi Islam berhasil menggulingkan pemerintahan boneka Amerika Serikat pada tahun 1978, para tokoh revolusi langsung membentuk Garda Revolusi untuk memastikan semua agenda Revolusi terlaksana dengan baik dan tuntas.

Gerakan Reformasi Indonesia tahun 1998 tidak melahirkan garda pengawal reformasi sehingga hingga detik ini masih tersisa agenda besar reformasi yang belum terlaksana. Sementara pembentukan Garda Reformasi saat ini sudah tidak relevan. Momentumnya sudah lewat. Satu-satunya jalan untuk menuntaskan agenda reformasi 1998 adalah Aksi Reformasi Jilid II dengan tuntutan :

1. Revitalisasi KPK;

2. Peningkatan kapasitas Komisi ASN dan Kompolnas dalam rangka pemberantasan KKN di dalam tubuh aparatur sipil khusus (kepolisian) dan aparatur sipil negara (ASN);

3. Resentralisasi urusan kepegawaian Nasional;

4. Pembentukan Komisi Militer Nasional dalam rangka pemberantasan KKN di tubuh militer.

Bahkan kalau perlu otonomi daerah dievaluasi karena ada indikasi bahwa otonomi daerah saat ini identik dengan otonomi KKN.

Penulis adalah salah satu pimpinan kesatuan aksi reformasi 1998

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Jumat, 10 Juli 2020 21:04 WIB
Oleh: Ibnu Rusydi Sahara*“Sampean dari Surabaya?” Teman saya kerap menerima pertanyaan itu, manakala turun dari bus antarkota yang membawanya dari Surabaya di beberapa kota di Jawa Timur. Yang bertanya tukang ojek. Yang biasa mangkal di sep...
Senin, 13 Juli 2020 23:23 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 13 Juli 2020 22:40 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat...