Umat Hindu di Desa Laban, Beton, serta Desa Pengalangan, Kecamatan Menganti, ketika pawai ogoh-ogoh merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1984. Foto: Ist.
GRESIK, BANGSAONLINE.com - Ribuan masyarakat memadati jalanan di Kecamatan Menganti untuk menyaksikan kemeriahan pawai ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, Rabu (18/3/2026) malam.
Perayaan tahun ini terasa sangat istimewa karena berlangsung di tengah suasana bulan suci Ramadhan, hanya berselang dua hari sebelum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Kedekatan dua hari besar ini menjadi cerminan nyata harmoni keberagaman di Kabupaten Gresik. Masyarakat dari berbagai latar belakang tampak berjajar rapi di sepanjang rute pawai di Desa Laban, Desa Beton, dan Desa Pengalangan untuk memberikan penghormatan bagi umat Hindu yang sedang menjalankan prosesi sakral.
Kapolres Gresik, AKBP Ramadhan Nasution, turun langsung memantau pengamanan didampingi sejumlah pejabat Polres Gresik dan Kapolsek Menganti, AKP Arif Rahman.
"Suasana penuh toleransi yang tercipta malam ini menjadi kunci utama terjaganya situasi Kamtibmas yang aman dan terkendali," ujar Ramadhan Nasution mengapresiasi sinergitas seluruh pihak.
Sekitar 1.000 peserta ambil bagian dalam arak-arakan yang digelar serentak di empat pura utama di wilayah Menganti, yakni Pura Jagad Dumadi (Desa Laban) menampilkan 12 ogoh-ogoh. Kemudian Pura Jagad Giri Natha (Desa Beton), Pura Kerta Bumi & Pura Kerta Buana (Desa Pengalangan).
Sebanyak 25 ogoh-ogoh diarak sebagai simbol menetralisir kekuatan negatif sebelum umat memasuki masa penyepian. Tepat pukul 21.05 WIB, seluruh ogoh-ogoh tersebut dibakar, menandai pemusnahan sifat buruk manusia sekaligus kesiapan menjalankan Catur Brata Penyepian.
Guna memastikan kelancaran acara, Polres Gresik menerjunkan personel gabungan yang bekerja sama dengan TNI, Satpol PP, Linmas, hingga Pecalang (keamanan adat Bali).
Kapolsek Menganti, AKP Arif Rahman, menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam mengatur arus lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan.
"Kami menempatkan personel di titik-titik strategis untuk memastikan umat Hindu dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk, sementara masyarakat umum tetap beraktivitas dengan aman dan nyaman melalui koordinasi intensif dengan Pecalang," jelas Arif.
Hingga kegiatan berakhir, situasi di seluruh wilayah Menganti terpantau aman dan tertib. Keberhasilan pengamanan ini menjadi bukti kuat bahwa toleransi di "Kota Santri" tetap kokoh, di mana masyarakat mampu saling menjaga kekhusyukan ibadah di tengah keberagaman keyakinan. (hud/rev)
























