Umat Hindu di Desa Laban, Beton, serta Desa Pengalangan, Kecamatan Menganti, ketika pawai ogoh-ogoh merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1984. Foto: Ist.
Sebanyak 25 ogoh-ogoh diarak sebagai simbol menetralisir kekuatan negatif sebelum umat memasuki masa penyepian. Tepat pukul 21.05 WIB, seluruh ogoh-ogoh tersebut dibakar, menandai pemusnahan sifat buruk manusia sekaligus kesiapan menjalankan Catur Brata Penyepian.
Guna memastikan kelancaran acara, Polres Gresik menerjunkan personel gabungan yang bekerja sama dengan TNI, Satpol PP, Linmas, hingga Pecalang (keamanan adat Bali).
Kapolsek Menganti, AKP Arif Rahman, menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam mengatur arus lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan.
"Kami menempatkan personel di titik-titik strategis untuk memastikan umat Hindu dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk, sementara masyarakat umum tetap beraktivitas dengan aman dan nyaman melalui koordinasi intensif dengan Pecalang," jelas Arif.
Hingga kegiatan berakhir, situasi di seluruh wilayah Menganti terpantau aman dan tertib. Keberhasilan pengamanan ini menjadi bukti kuat bahwa toleransi di "Kota Santri" tetap kokoh, di mana masyarakat mampu saling menjaga kekhusyukan ibadah di tengah keberagaman keyakinan. (hud/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




