Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA bersama Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa dan Prof Dr Dyah Sawitri dalam acara membahas persiapan pembukaan prodi umum dan kedokteran Universitas KH Abdul Chalim di kantor JKSN Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Rabu (18/3/2026). Foto: M Mas'ud Adnan/bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Rencana Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA untuk membuka program studi (prodi) umum - terutama kedokteran - di Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Pacet Mojokerto mendapat dukungan dari berbagai pihak. Diantaranya dari Menteri Koordinator (Menko) bidang Pangan Zulkifli Hasan, disamping tokoh-tokoh yang lain.
Karena itu Kiai Asep, yang merupakan pendiri sekaligus pembina Universitas KH Abdul Chalim, akan mempercepat rencananya tersebut dalam waktu dekat. Apalagi UAC diproyeksikan sabagai perguruan tinggi internasional. Bahkan sekarang sudah banyak mahasiswa-mahasiswi UAC yang berasal dari luar negeri, antara lain dari Sudan, Thailand, Vietnam, Afghanistan, dan negara-negara lainnya.
“Harus segera terwujud karena lahannya sudah siap,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE seusai acara buka bersama dengan puluhan dokter – termasuk alumnus Pondok Pesantren Amanatul Ummah – di kantor Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Jalan Siwalankerto, Rabu (18/3/2026).
Bahkan Kiai Asep tidak hanya berencana membuka prodi umum tapi juga mendirikan rumah sakit. Menurut Kiai Asep, lahan untuk rencana rumah sakit tersebu juga telah tersedia beberapa hektar.
Dalam acara buka bersama itu juga hadir Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Direktur Utama Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya dan Prof Dr Dyah Sawitri, Kepala Lembaga Layanan Perguruan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur.
Juga hadir dua putri Kiai Asep yang berprofesi sebagai dokter, antara lain Ning Zahroh dan Ning Iroh. Tampak juga istri Gus Ilyas yang juga dokter. Ning Iroh hadir bersama suaminya Dr Afif Zamroni (Gus Afif) yang juga direktur Pascasarjana UAC.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA bersama Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa dan Prof Dr Dyah Sawitri foto bersama dengan putri dan menantu Kiai Asep serta peserta acara persiapan pembukaan prodi umum dan kedokteran UAC, Rabu (18/3/2026). Foto: m mas'ud adnan/bangsaonline.
Dalam pengarahannya, Prof Cita mengemukakan pentingnya mentalitas dan sikap para dokter dalam melayani masyarakat. Ia menjelaskan perbedaan mahasiswa S2 kedokteran dengan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
Menurut dia, mahasiswa S2 kedokteran murni akademis.
“Kalau PPDS sehari-harinya di rumah sakit,” ujarnya.
Karena itu mahasiswa PPDS tidak hanya dituntut skill tapi juga sikap mental.
“Saya sering mendapat keluhan. Bukan soal skill tapi soal sikap (dokter),” ujar Prof Cita.
Menurut dia, seorang dokter harus ramah. “Bisa nggak senyum. Karena dokter berhubungan dengan masyarakat,” ujar Prof Sita sembari mengatakan bahwa pasien harus diperlakukan dengan baik.
Sementara Prof Dyah menyarankan pentingnya karakter dan kekhasan rumah sakit yang akan didirikan. Ia menyebut contoh ada rumah sakit yang menekankan ciri khas religi atau kekhasan yang lain.
Ia setuju dengan gagasan salah seorang putri Kiai Asep yang mengusulkan rumah sakit berbasis nilai keislaman. Tapi, tegas Prof Dyah, sebaiknya Kiai Asep lebih memprioritaskan terwujudnya prodi umum dan kedokteran. Soal rumah sakit, kata dia, nanti dipikirkan kemudian.
“Misalnya setelah empat tahun atau lima tahun setelah ada prodi kedokteran di UAC,” saran Prof Dyah.
Prof Dyah menyebut beberapa syarat untuk mendirikan prodi atau fakultas kedokteran umum.
“Syaratnya institusinya harus unggul,” ujar Prof Dyah.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




