Para pembicara dalam bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawah karya M. Mas'ud Adnan di Kantor PWNU DKI Jakarta, Ahad (17/6/2026). Foto: bangsaonline.com
JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nadlatul Ulama (PWNU) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta KH Syamsul Ma’arif menilai bahwa studi tentang tokoh masih belum banyak di kalangan kader NU. Akibatnya banyak tokoh besar NU justru tak dikenal atau belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Termasuk oleh warga NU sendiri. Ia mencontohkan KH Abdul Chalim, ayahanda Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA.
“Kiai Abdul Chalim pada usia 28 tahun sudah menjabat Wakil Katib Syuriah PBNU pada jaman Hadratussyaikh. Itu pada jaman Hadratussyaikh,” ujar KH Syamsul Ma’arif dalam acara Halaqah dan Bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan di Kantor PWNU DKI Jakarta Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Ahad (17/5/2026).
BACA JUGA:
- Amirulhaj Prof Kiai Asep: Wukuf di Arafah Waktu Mustajab, Malaikat juga Ikut Mintakan Ampunan
- Amanatul Ummah Terima Sapi Kurban Presiden, Wapres, Gubernur, Wagub, Sekda, PAN, BPN, & Wali Santri
- Amirulhaj Tinjau Adahi, Kiai Asep Pastikan Penyembelihan Dam Jemaah Haji Sah Secara Syariah
- Gus Miftah Ingin Jadi Sekjen PBNU? Ini Respons Kiai dan Kader NU
Tapi, tegas Kiai Syamsul Maarif, sosok Kiai Abdul Chalim belum popular di kalangan NU. Sehingga kader NU banyak yang belum mengenal sosok dan sejarah Kiai Abdul Chalim.
“Padahal kalau kita ingin menjadi tokoh besar, kita harus mengenal tokoh besar. Kalau kita ingin menjadi miliarder, kita harus mengenal dan dekat dengan miliarder. Kalau kita ingin menjadi tokoh dermawan, maka harus dekat dengan tokoh yang dermawan” ujar alumnus Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur itu.
Karena itu, menurut dia, buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan yang ditulis M. Mas’ud Adnan ini sangat bermanfaat untuk dijadikan rujukan.
“Saya sendiri belum membaca seluruhnya tapi saya lihat sekilas buku ini sangat bagus. Saya baru baca sedikit,” ujar Kiai Syamsul Maarif sembari membolak-balik buku setebal 520 halaman itu.
Nyai Hj Alif Fadhilah (pakai baju dan hijab warna ungu) dalam acara bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan di Kantor PWNU DKI Jakarta, Ahad (17/5/2026). Foto: bangsaonline.
Kiai Syamsul Maarif mengaku belum banyak mengenal Kiai Asep. Tapi ia mengaku sudah merasakan berkah dan manfaat Kiai Asep. Ia bercerita pernah kesulitan tiket pesawat karena waktunya mepet dalam sebuah acara di Jawa Timur. Ternyata oleh seseorang dikenalkan dengan Kiai Asep.
Tak perlu lama. Kiai Asep langsung menyelesaikan tiket secara gratis lewat orang-orangnya di bandara.
“Jadi saya langsung dapat tiket,” ujar Kiai Syamsul Maarif yang langsung disambut tawa para peserta yang duduk lesehan di lantai atas gedung PWNU DKI Jakarta.
“Saat itu saya belum jadi ketua PWNU,” tambahnya.
Ia juga mengakui keunggulan Pondok Pesantren Amanatul Ummah. “Dua keponakan saya mondok di Amanatul Ummah. Sekarang dua-duanya jadi dokter semua. Jadi saya sudah merasakan,” ujar Kiai Syamsul Maarif.
Menurut dia, di NU jarang sekali orang dermawan seperti Kiai Asep.
Karena itu Kiai Syamsul Maarif minta kader NU meneladani Kiai Asep. Menurut dia, Kiai Asep tokoh lengkap. Ia menyebut Kiai Asep secara intelektual bagus. Selain itu juga kaya dan dermawan.
“Dermawan ini yang sulit,” ujar Kiai Syamsul Maarif.
Menurut dia, Kiai Asep juga sukses mendidik puluhan ribuan santrinya menjadi kader bangsa yang cerdas.
“Jadilah seperti Kiai Asep,” ujarnya.
Lalu bagaimana tentang dukungan terhadap calon Rais ‘Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 NU mendatang. Kiai Syamsul Maarif setuju Kiai Asep masuk Ahwa. Begitu juga tiga Ketua PCNU yang hadir dalam acara itu. Mereka sepakat Kiai Asep masuk Ahwa.
Dalam acara itu tampak hadir Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Utara KH. Agus Muslim, S.Ag, M.Pd dan Sekretaris Abdul Aziz Yusuf, Ketua PCNU Jakarta Barat KH Agus Salim, SE dan Sekretaris Abdul Hakim serta Ketua PCNU Kepulauan Seribu Fakhrullah.
Juga hadir Sekjen PP Pergunu Dr Aris Adi Laksono dan para tokoh lain.
Kiai Asep membenarkan bahwa abahnya menjabat Katib Tsani dalam PBNU periode pertama. "Rais Akbarnya KH Muhamamd Hasyim Asy'ari, Wakilnya Kiai Ahmad Dahlan Ahyad. Katib Awalnya Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Katib Tsaninya abah saya, KH Abdul Chalim," ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah itu.
Kiai Asep juga menegaskan tentang tujuan NU didirikan. Menurut dia, ada dua tujuan NU didirikan. Pertama, untuk mengawal dan mengembangkan ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Kedua, untuk hurriyah yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia.
Menurut Kiai Asep, dengan paham Aswaja yang dikembangkan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, maka persatuan bangsa Indonesia bisa diraih. Karena mudara alias moderat dan inklusif.
"Karena itu Kiai Wahab dan abah yang keluar baik-baik dari Syarikat Islam karena Tjokro Aminoto berpaham khilafah," ujarnya.
Kiai Asep yang hadir bersama istrinya, Nyai Hj Alif Fadhilah, juga banyak bercerita tentang masa lalunya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




