Selasa, 20 April 2021 04:30

Sentono Gentong Diduga Sebagai Lokasi Penancapan Paku Pulau Jawa

Kamis, 03 Mei 2018 13:56 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Sentono Gentong Diduga Sebagai Lokasi Penancapan Paku Pulau Jawa
Bupati Indartato saat berkunjung ke objek wisata Sentono Gentong. foto: ist

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Mengenal wisata religi mungkin sebuah fenomena baru bagi masyarakat Pacitan. Namun begitulah realita yang saat ini tengah digarap Pemerintah Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku dalam mengembangkan destinasi wisata bersejarah bernama Sentono Gentong.

Menurut Ki Ageng (KA) Jolo Tundo, salah seorang pelaku sejarah di Pacitan, obyek wisata Sentono Gentong bukan sekadar wisata konvensional. Namun di titik lokasi tersebut pada era 1.500 silam pernah terjadi sebuah prosesi sakral yang dilakukan Syeh Subakir, seorang ulama besar dari Persia. Kedatangan ulama tersebut atas unjuk dari Raden Patah.

"Sentono artinya abdi kerjaan, dan Gentong merupakan tempat menampung air. Pada zaman dahulu kala, air di dalam gentong itu tak pernah habis meskipun tiap hari digunakan untuk mandi dan berwudlu," terangnya, Kamis (3/5).

Sebagaimana fakta sejarah yang dituturkan sejumlah ulama besar, bahwa di obyek wisata yang berjarak sekitar 10 Km dari pusat kota itu konon merupakan tonggak sejarah berdirinya Pulau Jawa. Sebab kala itu, Syeh Subakir pernah menancapkan satu paku gaib persis di tanah perbukitan nan tandus tersebut.

BACA JUGA : 

Pemerintah Pusat dan Provinsi Gelontorkan Ratusan Juta Rupiah untuk Sarpras di Sentono Gentong

Kunjungan Wisata ke Pacitan Terus Merosot, PAD Baru Tercapai 30 Persen

Perlu Pengembangan Wisata Religi di Pacitan

Pacitan Perlu Menjual Wisata Lain Selain Panorama

"Dua paku lainnya berada di Gunung Tidar dan Tasikmalaya. Paku yang di jompa-jampi doa itu konon berusia 600 tahun lebih. Sehingga di era sekarang ini sudah waktunya untuk dilakukan perpanjangan ritual agar Pula Jawa tetap utuh tidak tercerai-berai," ceritanya.

(Ki Ageng Jolo Tundo)

Selain cerita Syeh Subakir dan Raden Patah, sambung Jolo Tundo, Raden Mas (RM) Mudzakir yang tak lain masih keturunan ke IX dari Hamengkubuwono ke VII juga pernah meramalkan adanya patahan lempeng bumi yang melintas di kawasan tersebut.

"Di era digital ini, ramalan itu memang benar adanya. Hal itu didasarkan hasil penelitian para ahli geologi dari BMKG. Memang di lokasi tersebut ada sesar atau lempeng bumi yang merupakan patahan Pulau Jawa," jelasnya.

Sementara guna pengembangan obyek wisata religi itu, Bupati Pacitan Indartato berupaya memberikan suntikan dana APBD ke Pemdes Dadapan. Meski saat ini sudah dibangun sejumlah sarana prasarana dasar untuk memudahkan wisatawan berkunjung. Termasuk fasilitas paralayang juga bisa didapatkan di wisata Sentono Gentong.

“Pemerintah daerah akan membantu agar terus berkembang,” kata Indartato.

"Saat ini obyek wisata alam tersebut masih dikelola oleh pihak desa. Meski demikian, jika pemerintah daerah dibutuhkan akan turun tangan. Misalnya dalam penyediaan akses jalan yang lebih representatif maupun sarana pendukung lainnya. Ekonomi masyarakat sekitar akan ikut bergerak dengan semakin ramainya obyek wisata. Harapannya tentu kehidupan masyarakat akan sejahtera,” tuturnya. (yun/rev)

Polisi dan Tukang Becak, Madura Kok Dilawan
Senin, 19 April 2021 21:38 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan episoode ke-8 ini mereview tukang becak asal Madura yang dihadang polisi karena dianggap melanggar rambu-rambu lalu lintas. Di jalan raya itu memang tertancap rambu lalu lintas berupa ga...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Senin, 19 April 2021 05:29 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Dua guru besar ini punya integritas dan reputasi tinggi di bidangnya masing-masing. Nah, Dahlan Iskan kali ini tak banyak menulis. Tapi menurunkan pandangan dua profesor yang dua-duanya kontra dan kritis terhadap Vaksin...
Selasa, 20 April 2021 00:09 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*60. Wa-idz qaala muusaa lifataahu laa abrahu hattaa ablugha majma’a albahrayni aw amdhiya huqubaanDan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke ...
Minggu, 18 April 2021 12:17 WIB
Memasuki Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA)...