“Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruhani dan ideologis. Dari Bangkalan, Surabaya, hingga Tebuireng, kita diajak untuk memahami bahwa NU lahir dari adab, restu ulama, dan pengorbanan besar,” ujar H. Ir. Masduki Toha.
Menurutnya, persinggahan di Kantor PCNU Surabaya yang juga merupakan kantor lama PBNU menjadi pengingat penting bagi warga NU lintas generasi.
“Tempat ini adalah saksi sejarah bagaimana NU dibangun dari kesederhanaan, keikhlasan, dan kerja-kerja organisatoris yang penuh pengabdian. Generasi NU hari ini wajib melanjutkan khidmah tersebut dengan tetap berpegang teguh pada nilai Ahlussunnah wal Jama’ah serta komitmen kebangsaan,” tambahnya.
Usai dari Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Gubeng untuk bertolak ke Jombang menggunakan kereta api.
Setibanya di Jombang, peserta melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Tebuireng.
Puncak kegiatan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU 2026 berlangsung di Asta Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng, ditandai dengan seremonial penyambutan dan penyerahan tongkat serta tasbih dari KHR. Ach. Azaim Ibrahimy kepada KH. Fahmy Amrullah, yang kemudian ditutup dengan tahlil dan doa bersama.
PCNU Surabaya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia nasional, panitia lokal Bangkalan–Surabaya–Jombang, Banser, relawan, aparat keamanan, hingga seluruh warga Nahdliyin yang turut mengawal kegiatan ini sehingga berlangsung dengan tertib, aman, dan khidmat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




