“Nilai-nilai ini akan membentuk pribadi-pribadi yang mampu beradaptasi tangguh di lingkungan masyarakat,” ucapnya.
Namun, di era digital dan tantangan modern seperti tekanan ekonomi dan disrupsi nilai sosial, Khofifah menilai bahwa pola pengasuhan harus semakin kolaboratif antara ayah dan ibu.
“Oleh sebab itu dibutuhkan penyesuaian dalam pola pengasuhan dimana peran mengasuh anak tidak hanya dibebankan kepada perempuan dan peran pencari nafkah tidak semata-mata dibebankan kepada laki-laki, tetapi kolaborasi dari masing-masing peran ayah dan ibu di rumah,” tegasnya.
“Peran ayah menjadi semakin penting sebagai penyeimbang dalam pengasuhan serta pembentukan karakter anak,” imbuhnya.
Khofifah pun optimistis bahwa keluarga berkualitas akan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai negara yang berdaulat, mandiri, dan berkeadilan.
“Anggota keluarga yang sehat secara emosional dan mental dapat berkontribusi secara maksimal terhadap pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia,” ucapnya.
“Keluarga yang memprioritaskan pendidikan dan pengembangan keterampilan akan menghasilkan generasi muda yang terampil, cerdas, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun pasar global,” imbuhnya.
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya peran keluarga dalam menciptakan lingkungan sosial yang stabil dan mendukung tumbuh kembang anak secara psikologis dan mental.
“Keluarga yang kuat dan berkualitas akan memberikan perlindungan dan kestabilan yang esensial, terutama untuk perkembangan anak dan ketahanan mentalnya,” katanya.
“Keluarga berkualitas dapat menjadi fondasi yang kuat untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” pungkasnya. (dev/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




