"Saya sebagai anggota NU, tapi yang mengajak secara formal adalah KH. Taufik Hasyim. Saya diangkat sebagai ketua Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia) PCNU Kabupaten Pamekasan," ujarnya.
"Setelah menjadi ketua Lesbumi PCNU Pamekasan, saya diajak oleh KH. Taufik Hasyim untuk berkhidmat kepada yang lebih tinggi menjadi Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan, sebelum saya secara pribadi mengundurkan diri karna rangkap jabatan sebagai ketua P3," tambahnya.
Ia menambahkan, pengunduruan dirinya sebagai Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan mendapatkan persetujuan dari para ulama.
Banyak hal yang menjadi sejarah dalam hidup Wasir bersama dengan KH. Taufik Hasyim saat ia berkhidmat di NU Kabupaten Pamekasan. Bahkan sempat menggagas Koloman poncok suro.
"Beliau meskipun sosok seorang yang agamis tapi terbuka didalam dakwah dan siar, jadi kami keliling SE kabupaten Pamekasan kami membuat hal kegiatan tersebut (Poncok Suro). Bahkan rapat perdananya ditempatkan di monumen arek Lancor, kita lesehan itu adalah menjadi catatan besar bagi saya," tuturnya.
Menurut Wasir, KH Taufik Hasyim adalah orang yang sangat pintar dan rendah hati, bahkan dekat tokoh besar tokoh pesantren.
Masih kata Wasir, ketika dirinya masih bersama di PCNU kabupaten Pamekasan KH. Taufik Hasyim sangatlah sederhana dan akomodatif saat ada masukan dari kelompok muda.
"KH Taufik Hasyim menjadi salah satu penopang, pendukung mentor saya, doa beliau sangat banyak semoga amal jariyah ini di terima disisi Allah, ia sangat berkesan dalam hidup saya. Mulai dari awal karir saya, hingga proses politik saya, dan proses pengabdian saya di Kabupaten Pamekasan," Pun
Sebagai informasi, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan KH Taufik Hasyim dan istrinya Amiratul Mawaddah, meninggal dunia dalam kecelakaan maut di Tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), Sabtu (14/6/2025) dini hari. (dim/van)










