Muslihah, salah satu peserta JKN dari Desa Bangsongan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Foto: Ist
"Kebetulan juga saya jadi instruktur senam ibu-ibu lansia tiap hari rabu dan minggu. Saya juga melakukan IF, mulai jam 7 sampai jam 11 siang buka puasa, selebihnya puasa. Sarapan saya telur rebus atau ubi rebus. Saya juga sudah mengurangi makanan gorengan yang tidak sehat,” imbuhnya.
Setelah menerapkan pola hidup sehat, ia telah merasakan perubahan yang baik dalam tubuhnya. Kadar trigliserida yang semula tinggi perlahan mulai menurun. Peran JKN dalam kehidupan Muslihah turut membantu dirinya untuk mengontrol penyakit yang dideritanya.
Melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang disediakan oleh JKN, ia bersyukur karena dapat memantau kesehatannya dengan lebih baik.
“Alhamdulillah efek sampingnya sekarang sangat bagus, badan tidak ada keluhan sama sekali. Kadar trigliserida yang tadinya 400 sudah mulai turun ke 200. Dulu belum pernah IF dan olahraga, tiap bangun tidur badan selalu kesemutan. Makanya saya bangga sekali adanya Prolanis, selalu ada pengecekan rutin jadi bisa memantau kondisi kesehatan supaya penyakit saya tidak semakin parah,” katanya.
Kesan yang baik terhadap JKN juga diberikan oleh Muslihah. Meskipun dirinya jarang menggunakan JKN untuk berobat, dirinya tidak merasa rugi karena telah membayar iurannya per bulan.
Bahkan, ia paham akan konsep gotong royong yang ditanamkan oleh JKN. Menurut dia, meskipun tidak pernah menggunakan JKN, iuran biaya yang dibayarkan dapat bermanfaat untuk menolong orang lain yang lebih membutuhkan.
“Adanya Program JKN ini sangat bagus dan luar biasa. Saya dan keluarga jadi peserta JKN tujuannya bukan untuk diri saya sendiri, saya juga niatkan untuk bersedekah. Kita tidak mengharapkan sakit ya, tapi dengan ikut JKN juga sebagai bentuk cara kita untuk menolong secara tidak langsung kepada orang lain yang lebih membutuhkan layanan kesehatan,” pungkasnya. (uji/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




