Cover Majalah Tempo edisi 16-22 Oktober 2023.
Kenapa Jokowi bernafsu untuk cawe-cawe soal pilpres? “Di masa pemerintahan Jokowi, ada ratusan proyek strategis nasional dengan dengan anggaran lebih dari Rp 5.700 triliun yang tuntas terealisasikan. Salah satunya Ibu Kota Negara Nusantara, yang menghabiskan anggaran Rp 466 triliun hingga 2045. Sejumlah ahli hukum pidana menyebutkan pelbagai proyek di masa Jokowi bisa bermasalah karena mengabaikan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik," tulis Tempo.
Menurut Tempo, nepotisme Jokowi mengasumsikan transisi pemerintahan akan berjalan mulus jika wakil presiden terpilih adalah anaknya, meski ia belum matang dan belum punya cukup pengalaman mengenal birokrasi dan pemerintahan.
“Langkah Jokowi menyorong-nyorong Gibran ikut pemilu menjadi usaha mempertahankan kekuasaan belaka, persis gambaran Bung Hatta, wakil presiden pertama Indonesia, pada 1960 yang ia sebut sebagai krisis demokrasi.
Dalam berbagai survei sejatinya elektabilis Gibran sangat rendah. Hanya 7-8 persen, di bawah Erick Thohir, menteri BUMN, yang menjadi salah satu kandidat cawapres Prabowo. Dalam simulasi calon presiden-wakil presiden, dalam survei Indikator Politik Indonesia pada akhir Agustus -awal September, elektabilitas Prabowo-Gibran berada di bawah pasangan Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno ataupun Ganjar-Mahfud MD.
“Alasan paling masuk akal perkawinan Prabowo-Gibran adalah sokongan Jokowi,” tulis Tempo. Dengan mengajak Gibran, Prabowo mendapatkan garansi dukungan Jokowi. Apalagi naiknya elektabilitas Prabowo belakangan ditengarai berasal dari limpahan dukungan dari basis pemilih Jokowi pada 2019.
Dengan dukungan Jokowi pula Prabowo akan punya akses lebih besar terhadap sumber daya, terutama di pemerintahan. Prabowo bisa mendapatkan sokongan dri aparatur negara. “Mobilisasi aparat bukan hal yang aneh dalam pemilihan umum di negara berkembanga. Meski tak terang-terangan, praktik ini pernah terjadi pada pemilihan umum sebelumnya,” tulis Tempo.
Seorang purnawirawan Letnan Jenderal yang kini menjadi koordinator pemenangan Prabowo menuturkan tentang pengalaman pahitnya saat pilpres 2019. “Kotak suara yang sudah disegel oleh KPU diganti isinya sehingga Prabowo kalah dalam Pilpres 2019,” kata sang jenderal kepada BANGSAONLINE sembari mengingatkan sebuah potongan video seorang perempuan yang membongkar praktik kecurangan pilpres 2019. “Perempuan itu istri saya. Sekarang sudah meninggal. Karena itu saya sekarang terpanggil untuk membantu 08,” tegas jenderal berpostur tinggi besar itu.
Karena itu, tegas dia, sekarang Prabowo “mengekor Jokowi” agar tidak menjadi korban lagi pada pilpres 2024.
Pada sisi lain, di internal Gerindra sendiri resah dengan kehadiran Gibran. Selain banyak mendapat ejekan dan celaan juga elektabilitas Gibran sangat rendah. Bahkan, tegas petinggi Gerindra itu, sangat sulit memasarkan Gibran karena tak punya keistimewaan yang bisa dijadikan argumentasi secara akal sehat.
“Gimana cara menjualnya,” katanya. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




