Senin, 01 Maret 2021 23:06

Tafsir Al-Kahfi 47-49: Berbaris Telanjang di Depan Tuhan

Sabtu, 09 Januari 2021 20:46 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 47-49: Berbaris Telanjang di Depan Tuhan
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

47. Wayawma nusayyiru aljibaala wataraa al-ardha baarizatan wahasyarnaahum falam nughaadir minhum ahadaan

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.

48. Wa’uridhuu ‘alaa rabbika shaffan laqad ji'tumuunaa kamaa khalaqnaakum awwala marratin bal za’amtum allan naj’ala lakum maw’idaan

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (berbangkit untuk memenuhi) perjanjian.”

49. Wawudhi’a alkitaabu fataraa almujrimiina musyfiqiina mimmaa fiihi wayaquuluuna yaa waylatanaa maa lihaadzaa alkitaabi laa yughaadiru shaghiiratan walaa kabiiratan illaa ahsaahaa wawajaduu maa ‘amiluu hadiran walaa yazhlimu rabbuka ahadaan

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.


TAFSIR AKTUAL

Setelah membicarakan kemegahan dunia yang berbalut harta dan keluarga, dan menasihati bahwa itu semua bakal sirna kecuali al-baqiyat al-shalihat, maka ayat kaji ini menandaskan, bahwa hal tersebut nyata sekali ketika gunung-gunung bergeser, hancur, dan rata dengan tanah. Manusia digiring berbaris di hadapan Tuhan menanti pengadilan. Kala itu, al-baqiyat al-shalihat berguna.

Kedahsyatan hari kiamat sungguh tidak terbayangkan. Bagaimana mungkin gunung-gunung bergeser dan beterbangan. Semua planet, bintang, rembulan, dan matahari berbenturan. Langit pecah dan seterusnya. Itu pasti terjadi, tinggal kita mau beriman, lantas mempersiapkan diri atau mengingkari.

"laqad ji'tumuna kama khalaqnakum awwal marrah..". Wujud manusia persis seperti sedia kala, saat dia lahir. Umumnya mufasirun mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah telanjang, tanpa busana. Hadis riwayat ibu A'isyah justru menyatakan lebih rinci. "hufah, 'urah, ghurla..". Berjalan tanpa alas kaki, telanjang tanpa busana, dzakarnya utuh, belum dikhitan.

Ketika Rasulullah SAW mengisahkan keadaan hari kiamat macam itu, sebagai wanita, ibu 'Aisyah bertanya: "Ya Rasulallah, bagaimana mungkin itu terjadi, laki dan perempuan bercampur jadi satu. Nanti kan saling melihat kemaluan?". Rasul menjawab: "Ya 'Aisyah, keadaan sangat pedih dan menakutkan, sehingga tidak ada yang punya pikiran ke situ".

Ya, jika ada bencana alam yang menimpa, seperti gempa bumi, banjir bandang, kebakaran besar, masing-masing manusia pasti pada lari menyelamatkan diri. Saat sama-sama lari dan ketakutan, meskipun ada yang telanjang di depan mata, apa ada yang sempat lirak-lirik? Masing-masing hanya berpikir menyelamatkan diri saja.

Maksiat itu melakukan hal yang dilarang agama dalam keadaan normal. Dia sehat, merasakan, dan sadar, maka kala itu sebuah perbuatan dinilai sebagai dosa. Makanya, agama tidak menghitung perbuatan orang yang dipaksa. Hal itu karena bukan atas kehendak sendiri, melainkan tertekan dan sama sekali tidak menikmati.

Seorang cewek yang diperkosa, maka dia tidak dosa selagi selama pemerkosaan berlangsung, hatinya benar-benar berontak, membenci, dan tenaganya melawan. Seperti menendang, mencakar, atau berteriak. Jika diancam dibunuh kalau berteriak, maka minimal hatinya membenci dan tidak rela. Kalau hatinya rela dan merasakan, maka sama-sama berzina dan berdosa.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Dua Warga Kepulungan yang Terseret Banjir Bandang Ditemukan Tewas
Kamis, 04 Februari 2021 17:21 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Dua warga Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang akibat terseret derasnya arus banjir Rabu (3/2) kemarin, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (4/2) pagi. Korban adalah ...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Senin, 01 Maret 2021 08:13 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.COM – Ternyata banyak sekali putra Indonesia yang punya potensi unggul. Di berbagai bidang. Termasuk penemuan tes Covid-19. Dalam tulisan edisi Senin, 1 Maret 2021, ini Dahlan Iskan mengangkat tentang I-Nose, hasil p...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 27 Februari 2021 11:53 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...