Kamis, 17 Juni 2021 12:23

Tafsir Al-Kahfi 47-49: Berbaris Telanjang di Depan Tuhan

Sabtu, 09 Januari 2021 20:46 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 47-49: Berbaris Telanjang di Depan Tuhan
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

47. Wayawma nusayyiru aljibaala wataraa al-ardha baarizatan wahasyarnaahum falam nughaadir minhum ahadaan

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.

48. Wa’uridhuu ‘alaa rabbika shaffan laqad ji'tumuunaa kamaa khalaqnaakum awwala marratin bal za’amtum allan naj’ala lakum maw’idaan

BACA JUGA : 

Tafsir Al-Kahfi 65: Khidir A.S., Nabinya Komunitas Green Peace

Tafsir Al-Kahfi 61-64: Guru Mendatangi Murid atau Murid Mendatangi Guru

Tafsir Al-Kahfi 61-64: Andai Android Zaman Musa A.S.

Tafsir Al-Kahfi 60: Kecongkakan Nabi Musa A.S.

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (berbangkit untuk memenuhi) perjanjian.”

49. Wawudhi’a alkitaabu fataraa almujrimiina musyfiqiina mimmaa fiihi wayaquuluuna yaa waylatanaa maa lihaadzaa alkitaabi laa yughaadiru shaghiiratan walaa kabiiratan illaa ahsaahaa wawajaduu maa ‘amiluu hadiran walaa yazhlimu rabbuka ahadaan

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.


TAFSIR AKTUAL

Setelah membicarakan kemegahan dunia yang berbalut harta dan keluarga, dan menasihati bahwa itu semua bakal sirna kecuali al-baqiyat al-shalihat, maka ayat kaji ini menandaskan, bahwa hal tersebut nyata sekali ketika gunung-gunung bergeser, hancur, dan rata dengan tanah. Manusia digiring berbaris di hadapan Tuhan menanti pengadilan. Kala itu, al-baqiyat al-shalihat berguna.

Kedahsyatan hari kiamat sungguh tidak terbayangkan. Bagaimana mungkin gunung-gunung bergeser dan beterbangan. Semua planet, bintang, rembulan, dan matahari berbenturan. Langit pecah dan seterusnya. Itu pasti terjadi, tinggal kita mau beriman, lantas mempersiapkan diri atau mengingkari.

"laqad ji'tumuna kama khalaqnakum awwal marrah..". Wujud manusia persis seperti sedia kala, saat dia lahir. Umumnya mufasirun mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah telanjang, tanpa busana. Hadis riwayat ibu A'isyah justru menyatakan lebih rinci. "hufah, 'urah, ghurla..". Berjalan tanpa alas kaki, telanjang tanpa busana, dzakarnya utuh, belum dikhitan.

Ketika Rasulullah SAW mengisahkan keadaan hari kiamat macam itu, sebagai wanita, ibu 'Aisyah bertanya: "Ya Rasulallah, bagaimana mungkin itu terjadi, laki dan perempuan bercampur jadi satu. Nanti kan saling melihat kemaluan?". Rasul menjawab: "Ya 'Aisyah, keadaan sangat pedih dan menakutkan, sehingga tidak ada yang punya pikiran ke situ".

Ya, jika ada bencana alam yang menimpa, seperti gempa bumi, banjir bandang, kebakaran besar, masing-masing manusia pasti pada lari menyelamatkan diri. Saat sama-sama lari dan ketakutan, meskipun ada yang telanjang di depan mata, apa ada yang sempat lirak-lirik? Masing-masing hanya berpikir menyelamatkan diri saja.

Maksiat itu melakukan hal yang dilarang agama dalam keadaan normal. Dia sehat, merasakan, dan sadar, maka kala itu sebuah perbuatan dinilai sebagai dosa. Makanya, agama tidak menghitung perbuatan orang yang dipaksa. Hal itu karena bukan atas kehendak sendiri, melainkan tertekan dan sama sekali tidak menikmati.

Seorang cewek yang diperkosa, maka dia tidak dosa selagi selama pemerkosaan berlangsung, hatinya benar-benar berontak, membenci, dan tenaganya melawan. Seperti menendang, mencakar, atau berteriak. Jika diancam dibunuh kalau berteriak, maka minimal hatinya membenci dan tidak rela. Kalau hatinya rela dan merasakan, maka sama-sama berzina dan berdosa.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Soal Anggaran Menhan untuk Alutsista Rp 1.700 Triliun, Ini Komentar Kiai Asep
Kamis, 17 Juni 2021 00:22 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Heboh anggaran untuk membeli Alutsista sebesar Rp 1.700 Triliun membuat Menteri Pertahanan Prabowo Subianto terus mendapat sorotan publik. Padahal, menurut Prabowo, master plan atau grand design itu permintaan ...
Jumat, 04 Juni 2021 10:27 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bukit Kehi, destinasi wisata yang satu ini berada di Kota Pamekasan. Bukit Kehi menawarkan pemandangan daerah pegunungan yang hijau mempesona. Pengunjung bahkan bisa berenang di sejuknya hawa pegunungan di pulau gar...
Kamis, 17 Juni 2021 05:46 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Di Indonesia, terutama di Bangkalan dan Kudus, Covid-19 mengganas. Ratusan orang meninggal dunia.Tapi di belahan dunia lain Covid-19 justru lenyap. Inilah yang terjadi di California. Warganya pun berpesta. Pesta merdeka Cov...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 12 Juni 2021 09:55 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...