Senin, 01 Maret 2021 22:38

Tafsir Al-Kahfi 39-41: Studi Bahasa

Selasa, 08 Desember 2020 09:18 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 39-41: Studi Bahasa
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaan

Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.

40. fa’asaa rabbii an yu'tiyani khayran min jannatika wayursila ‘alayhaa husbaanan mina alssamaa-i fatushbiha sha’iidan zalaqaan

Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik dari kebunmu (ini); dan Dia mengirimkan petir dari langit ke kebunmu, sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin,

41. aw yushbiha maauhaa ghawran falan tastathii’a lahu thalabaan

atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka engkau tidak akan dapat menemukannya lagi.”

TAFSIR AKTUAL

Ada dua kalimat dalam deretan ayat kaji di atas yang menarik digali bias maknanya. Pertama, "... fa tushbih sha'ida zalaqa". Tanah yang halus. Potongan ayat ini dijadikan al-Syafi'ie sebagai dasar ijtihad perihal sifat tanah (sha'id) yang sah dijadikan media bertayammum, yakni "zalaqa", lembut, halus.

Sebab yang halus itu bisa menempel di wajah dan kedua tangan (anggota tayammum) sebagai persyaratan bersuci. Dan yang halus, lembut (zalaqa) itu adalah debu saja, lain tidak. Jadi, bagi al-Syafi'iy, bertayammum hanya sah jika pada debu. Sementara pasir, krikil, batu, kayu dan sebangsanya tidak sah dipakai media bertayammum. Allah a'lam.

Kedua, fungsi mashdar yang bisa sebagai isim fa'il. "aw yushbih ma'uha ghaura". Airnya lenyap. Kata "ghaur" adalah bentuk masdar, tapi difungsikan sebagai isim fa'il, yakni "Gha'ir" menerangkan kata "ma'uha". Ulama' bahasa arab lantas men-justice masdar macam ini sebagai bersifat universal, baik untuk mudzakkar, muannats, mutsanna, atau jamak.

Misalnya, membahasakan orang yang adil, dengan bentuk fa'il, 'Adil (Ain, alif, dal, dan lam). Sedangkan pakai bentuk masdar, bunyinya 'Adl. (ain, dal dan lam). Sama dengan Fadl (Fadil), Ridla (Radli), Fithr (Fathir). (al-Jami' li Ahkam al-qur'an:X/p.409).

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Dua Warga Kepulungan yang Terseret Banjir Bandang Ditemukan Tewas
Kamis, 04 Februari 2021 17:21 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Dua warga Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang akibat terseret derasnya arus banjir Rabu (3/2) kemarin, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (4/2) pagi. Korban adalah ...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Senin, 01 Maret 2021 08:13 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.COM – Ternyata banyak sekali putra Indonesia yang punya potensi unggul. Di berbagai bidang. Termasuk penemuan tes Covid-19. Dalam tulisan edisi Senin, 1 Maret 2021, ini Dahlan Iskan mengangkat tentang I-Nose, hasil p...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 27 Februari 2021 11:53 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...