Rabu, 08 Juli 2020 07:50

Curhatan Keluarga Almarhum dr. Hilmi Wahyudi yang Meninggal di Tengah Tugas Melawan Pandemi Covid-19

Kamis, 04 Juni 2020 14:48 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Syuhud
Curhatan Keluarga Almarhum dr. Hilmi Wahyudi yang Meninggal di Tengah Tugas Melawan Pandemi Covid-19
dr. Hilmi Wahyudi (kiri) semasa hidup foto bersama keluarga. foto: ist.

GRESIK, BANGSAONLINE.com - Di tengah wabah Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda, ada kabar mengharukan dari tenaga medis yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menangani pasien terpapar Covid-19.

Kabar itu datang dari keluarga almarhum dr. Hilmi Wahyudi, yang selama Kabupaten Gresik dilanda pandemik virus Corona (Covid-19) berjibaku melawan dan memerangi wabah tersebut.

dr. Hilmi Wahyudi, yang bertugas di Rumah Sakit (RS) Mabarrot MWC NU Bungah dan RS. Fathma Medika, Sembayat Kecamatan Manyar ini, meninggal akibat penyakit diabetes yang dideritanya. Ia meninggal di saat dirinya menjalankan tugas membantu pemerintah dalam memerangi Covid-19.

Hal ini diungkapkan oleh Richard (16), putra tertua almarhum. "Ayah saya bekerja keras menjalankan tugas membantu pemerintah dalam melawan sebaran virus Corona sebelum meninggal," ujar Richard mendampingi ibunya, Dewi Anggrahani (37), Istri almarhum mengawali ceritanya kepada BANGSAONLINE.com, Kamis (4/6).

Richard mengungkapkan, kalau semasa hidup, ayah dan keluarga tinggal di Jalan Madiun No. 10, Gresik Kota Baru (GKB) Desa Yosowilangun Kecamatan Manyar. "Ayah sebagai dokter bertugas di RS Mabarrot MWC NU Bungah dan RS. Fathma Medika Sembayat," ungkapnya.

Ia kemudian menceritakan kesederhanaan hidup ayahnya meski menyandang status dokter. Yakni, setiap hari berangkat kerja dengan naik motor. Padahal, jarak antara rumahnya dengan RS Mabarrot MWC NU Bungah dan RS Fathma Medika Sembayat mencapai puluhan km.

"Jarak tempuh yang cukup jauh dari GKB ke Bungah, membuat ayah harus sering menginap di tempat tugas apabila kondisi hujan," ungkapnya

Dikatakan Richard, kesibukan ayahnya sebagai seorang dokter untuk melayani masyarakat sangat melelahkan. Terlebih, saat pandemi virus Covid-19 melanda di Kabupaten Gresik.

"Meski ayah sakit, tapi sangat bertanggungjawab dalam bertugas melayani pasien dan membantu menangani pasien Covid-19," terangnya.

Kerja keras inilah yang juga membuat penyakit ayahnya kian parah, sehingga fisiknya juga semakin melemah. Richard mengungkapkan, bahwa 3 bulan terakhir kondisi fisik ayahnya mulai melemah setelah penyakit diabetesnya kambuh dan harus cuci darah seminggu 2 kali (Selasa dan Jum’at). "Dengan memakan waktu 4 jam setiap sekali cuci darah di RS Ibnu Sina Gresik," ungkap Ricahrd.

Ayah Richard akhirnya drop pada hari Rabu, 27 Mei 2020. "Ayahku Jatuh sakit, Mas. Ayahku lemas dan merasakan kesakitan di perutnya," ungkapnya.

dr. Hilmi kemudian menjalani rapid test. "Hasilnya, dinyatakan non reaktif atau negatif Covid -19. Tapi kondisi ayah saya kian parah," imbuhnya.

Bahkan, dr. Hilmi sempat dibawa ke ruangan ICU RSUD Ibnu Sina karena tidak sadarkan diri. "Saya, ibu, dan adik-adik saya hanya bisa melihat dari balik kaca sambil terus berdo’a, Yaa Allah... sembuhkan ayahku. Yaa Rabb... Aku masih butuh ayahku untuk membimbingku dan adik-adikku yaa Rabb," kata Richard sambil berlinangan air mata.

Kemudian, pada hari Jum’at, 29 Mei 2020, Richard mulai melihat tanda-tanda yang dikhawatirkan keluarganya mulai terjadi. Hari itu, ia melihat dokter yang merawat ayahnya memasangkan alat bantu pernapasan pada sang ayah yang sudah tak sadarkan diri.

"Saat itulah saya bisa melihat air dalam gelas yang menempel dalam tabung oksigen yang dipakai alat bantu pernapasan ayahku berhenti bergerak, Mas," katanya.

"Para dokter berusaha melakukan pertolongan untuk menyelamatkan nyawa ayah," sambungnya.

Namun takdir Allah SWT berkata lain. Sekitar pukul 21.15 WIB, ayah Richard tidak bisa tertolong. "Dokter menyatakan ayah saya telah meninggal dunia. Ayah telah kembali kepada Allah SWT dengan meninggalkan saya, ibu, dan 3 adik saya untuk selamanya Mas," ungkapnya sambil menangis terisak mengenang ayahnya.

(Anak almarhum dr. Hilmi Wahyudi ketika ziarah di makam ayahnya. foto: ist)

dr. Hilmi Wahyudi, lulusan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini akhirnya meninggal pada 29 Mei 2020 di RSUD Ibnu Sina Gresik dalam usia 40 tahun.

Kesedihan Ricahard dan keluarga belum berhenti sampai di sini. Masalah datang ketika ia hendak membawa pulang jenazah almarhum ayahnya. Segala administrasi sejatinya sudah beres.

Namun, untuk membawa pulang jenazah almarhum, terhadang oleh keresahan warga setempat yang dikomandoi oleh putusan kepala desa. Kades setempat tak mengizinkan jenazah dr. Hilmi disalatkan di musala dan dimakamkan secara normal. Alasannya, almarhum dr. Hilmi Wahyudi meninggal dalam status pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19. Apalagi, saat itu Gresik sedang memberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Covid-19 jilid III.

"Jenazah ayah kami juga tak diizinkan disalatkan di musala. Almarhum ayah saya malam itu juga akhirnya dimakamkan dengan protokol kesehatan Covid-19. Kami sekeluarga sangat sedih menyaksikannya," pungkasnya. (hud/rev)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Rabu, 01 Juli 2020 18:44 WIB
Oleh Fandi Akhmad Yani (Gus Yani)*Kring... Kring.. Kring.. "Hallo Pak Ketua". Terdengar suara lirih dari depan kantor DPRD Gresik saat saya keluar dari kantor. Adalah Mbah Amang Genggong. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali melintas di depan ged...
Rabu, 24 Juni 2020 23:47 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Jumat, 03 Juli 2020 22:23 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat...