Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA. saat menyampaikan taushiah dalam acara pembagian rapot santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto di Masjid Kampus Universitas KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur, Senin (1/12/2026). Foto: MMA/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Sehari penuh jalan ke arah Pacet Mojokerto Jawa Timur macet total, Senin (1/1/2026). Sejak pukul 6 pagi ribuan mobil dari berbagai daerah merangsek ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang didirikan dan diasuh Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA.
Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, plat nomor mobil itu beraneka ragam. Ada plat B (Jakarta), D (Bandung), H (Semarang) L(Surabaya), dan sebagainya. Berarti mobil-mobil itu datang dari berbagai daerah, termasuk dari Jakarta.
Antrean mobil mengular hingga lebih 10 KM. Bahkan saat sore sekitar 15.00 jalanan ke arah Pacet macet total. Berjam-jam tak bergerak. Masuk tak bisa, keluar juga tak ada jalan. Otomatis banyak pengendara mematikan mesin.
Namun kemacetan berjam-jam itu justru mendatangkan rezeki pada sebagian masyarakat. Banyak warga Pacet menawarkan jasa ojek sepeda motor untuk mengangkut para wali santri yang mobilnya terjebak macet. BANGSAONLINE melihat banyak ibu-ibu yang kemudian memilih naik motor menuju Masjid Raya KH Abdul Chalim atau ke Masjid Kampus Universitas KH Abdul Chalim (UAC).

Gus Ilyas saat memimpin istighatsah. Foto: bangsaonline
Tahun ini Amanatul Ummah memang membagi rapot para santri di dua tempat. Untuk SMP, MTs, dan MTs CI, para wali santri mengambil rapot di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Sedangkan untuk MBI, SMA BP dan MAI, para wali santri mengambil rapot di Masjid Kampus UAC yang jaraknya sekitar 1 KM dari Pondok Pesantren Amanatul Ummah.
Kedatangan ribuan wali santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah dari berbagai daerah itu telah menjadikan Pacet tak ubahnya lautan manusia. Maklum, mereka selain mengambil rapot yang waktunya bersamaan juga mejemput putra-putrinya. Otomatis Pacet menjadi episentrum berkumpulnya puluhan ribu satri dan wali santri.
Acara pembagian rapot sebenarnya tak berbarengan. Untuk MTs, SMP, MTs CI, dibagi pada pagi hari hingga siang. Sedangkan untuk MBI, MAI dan SMA BP dibagi sehabis shalat dhuhur. Tapi kedatangan para wali santri yang jumlahnya sangat sangat menyebabkan kemacetan tak telelakkan.
Di Masjid Raya Kampus UAC pembagian rapot itu diawali istighatsah yang dipimpin Gus Ilyas, salah seorang putra Kiai Asep Saifuddin Chalim. Kemudian dilanjutkan taushiyah Kiai Asep, terutama selaku pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah.
Yang menarik, putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu terus berusaha untuk mengubah persepsi publik tentang mutu sekolah. Menurut Kiai Asep, salah besar jika masih ada anggapan bahwa sekolah terbaik itu adalah SMA Negeri.
Kiai Asep mencontohkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang baru berlangsung. Menurut dia, banyak sekali anak-anak Amanatul Ummah yang mendapat nilai Istimewa pada lima mapel.
“Matematikanya istimewa, Bahasa Inggrisnya istimewa, Bahasa Indonesianya Istimewa,” tegas Kiai Asep.
Padahal, di sekolah lain, termasuk SMA Negeri, sulit dan jarang sekali murid-muridnya mendapat nilai Istimewa pada lima mapel.
Menurut Kiai Asep, lembaga pendidikan pesantren jauh lebih berpeluang untuk menjadi lembaga pendidikan berkualitas. Karena waktu belajar mereka jauh lebih banyak dan panjang ketimbang murid-murid SMA Negeri.
“Di Mojokerto ini ada 20 sekolah negeri. Tapi masih jauh lebih baik satu sekolah Amanatul Ummah,” tegas Kiai Asep yang langsung mendapat tepuk tangan meriah.
Kiai Asep yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama itu memberi contoh konkrit soal lulusan Amanatul Ummah. Menurut dia, pada tahun 2025 kemarin, sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah diterima di berbagai perguruan tinggi negeri favorit dan luar negeri.
“Yang diterima di Kedokteran 65 orang. Diterima di Kedokteran China, Kedokteran Jerman, Kedokteran Unhan,” tutur kiai miliarder tapi dermawan itu yang lagi-lagi mendapat tepuk tangan meriah.
“Anak-anak kita yang diterima di Unhan 10 orang, 6 orang di Kedokteran. Masuk Unhan itu sangat sulit, semua beasiswa,” kata Kiai Asep lagi.
Mendengar wejangan Kiai Asep para wali santri tampak semangat dan optimistis. Apalagi ketika Kiai Asep menyatakan bahwa salah satu kriteria guru yang baik adalah mendoakan murid-muridnya.
Kiai Asep sendiri dalam doa-doanya tidak hanya mendoakan para santrinya tapi juga mendoakan orang tua santri atau wali santri. Saat memimpin doa acara tersebut, tak kurang tiga kali Kiai Asep menyebut santri dan wali santri dalam doanya. Termasuk doa agar hutang-hutang negara dan para orang tua santri segera lunas dan selalu mendapat rezeki yang barakah.







